Bandung,(tabloidpilarpost.com) – Universitas adalah tempat terakhir seseorang untuk menimba ilmu secara formal. Di sinilah fase transisi menuju kehidupan nyata dimulai. Mahasiswa dibekali dengan berbagai teori yang kelak akan diuji di dunia nyata, sekaligus dipaksa untuk berpikir matang dan belajar beretika dalam bersosialisasi. Namun, untuk mencapai semua itu tentu tidaklah mudah. Mahasiswa harus menempuh proses panjang selama kurang lebih 3,5 hingga 4 tahun, itupun jika perjalanan akademiknya berjalan tanpa hambatan. Mahasiswa dibekali dengan mata kuliah khusus sesuai dengan jurusan yang dipilih, supaya kelak nantinya mahasiswa bisa berfokus pada satu tujuan dan menggapai cita-cita sesuai dengan keinginan. Sering kali, mahasiswa dihadapkan dengan tugas-tugas yang tak terhitung jumlahnya, namun mereka tetap berusaha bertahan demi meraih gelar yang diimpikan.
Di dunia universitas, sistem penilaian setiap dosen memang berbeda-beda, sehingga mahasiswa harus bisa beradaptasi sesuai dengan aturan penilaian setiap masing-masing dosen. Ada dosen yang memberikan nilai bagus cukup dari kehadiran, ada yang cukup dari penugasan tanpa kehadirannya lengkap, ada yang menilai dari keaktifan saat dikelas, ada juga yang menghitung nilai hanya dari UTS dan UAS. Oleh karena itu, mahasiswa, terutama yang baru menyentuh dunia perkuliahan, sering merasa kewalahan menghadapi sistem penilaian yang berbeda-beda ini.
Untuk memperkuat topik ini, penulis membuat survei yang diisi oleh sejumlah mahasiswa dari berbagai jurusan dan semester. Survei ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan dari mahasiswa terhadap perbedaan sistem penilaian dosen yang berbeda-beda serta melihat seberapa aktif mereka ketika berada di dalam kelas.
Dari 21 responden, sebagian besar mengaku “kadang-kadang” merasa ragu untuk menjawab pertanyaan meski sebenarnya tahu jawabannya. Alasannya terbanyak adalah “takut salah/malu” (66,7%), disusul dengan “takut dinilai teman atau dosen” (23,8%). Selain itu, Sebanyak 52,4% para mahasiswa mengatakan bahwa mereka “kadang-kadang” merasakan perasaan takut atau ragu untuk bertanya maupun menjawab didalam kelas.
Dari hasil survei tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian mahasiswa merasa ragu atau takut untuk berbicara di kelas karena penilaian dari orang lain sangat memengaruhi mereka. Selain itu, tekanan untuk selalu terlihat sempurna juga menjadi salah satu alasan mengapa mahasiswa enggan bertanya ataupun menjawab. Rasa takut salah, khawatir, dan malu akan pandangan dari orang lain membuat para mahasiswa memilih untuk diam, padahal keaktifan dikelas sangat penting untuk pembelajaran di universitas.
Di bagian akhir survei, penulis juga menanyakan bagaimana sebaiknya mahasiswa dapat lebih berani dalam mengungkapkan pendapat, entah itu berupa pertanyaan, jawaban, maupun gagasan yang ingin disampaikan. Tercatat, sebanyak 61,9% mahasiswa mengatakan bahwa lingkungan kelas yang aman dan suportif merupakan hal yang paling mendukung mereka untuk lebih berani mengungkap gagasannya. Selanjutnya 38,1% mahasiswa menginginkan metode pembelajaran yang interaktif, dan 28,6% mahasiswa menginginkan apreasiasi berupa penilaian keberanian saat partisipasi didalam kelas supaya menjadi motivasi mereka untuk berani berbicara. Terakhir, mahasiswa lainnya memilih diskusi kelompok kecil, dan dosen yang bisa membuat mahasiswa nya terpacu untuk menjawab atau bertanya. Perlu dicatat, survei ini memungkinkan mahasiswa memilih lebih dari satu opsi, sehingga wajar jika persentase totalnya melebihi 100%.
(Mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati dan Anggota Center For Humanity Studies)
![]()









