Malang, (tabloidpilarpost.com) – Di tengah kemeriahan Festival Ekonomi Kreatif South Wave Malang Makmur Berdaya Saing 2026 di Pantai Regent Balekambang, Kabupaten Malang, sebuah kegelisahan tentang masa depan seni tradisional mencuat. Bejo Sandi, salah satu seniman yang konsisten memperjuangkan Rinding Malang, berharap alat musik tradisional tersebut tidak hilang ditelan zaman.
Kegelisahan itu disampaikan Bejo Sandy saat berbincang dengan Suryadi Eka Dharma, Kepala Perwakilan Tabloid Pilar Post Jawa Timur sekaligus Koordinator Wilayah Malang Raya, di stan Harpa Mulut Indonesia dalam rangkaian kegiatan South Wave 2026.
Menurut Bejo Sandy, Rinding Malang merupakan instrumen tradisional yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan, tetapi keberadaan seniman yang mampu memainkan serta melestarikannya masih terbatas.
Ia khawatir perjuangan menjaga eksistensi Rinding Malang akan kehilangan penerus apabila tidak ada upaya serius untuk mengenalkan instrumen tersebut kepada generasi muda.
Bejo Sandy menyampaikan bahwa berdasarkan pendataan yang dimilikinya, terdapat sekitar 20 seniman di wilayah Malang Raya yang tercatat memiliki akses atau kemampuan memainkan instrumen Rinding Malang.
Jumlah tersebut, menurutnya, menjadi alasan penting untuk memperkuat upaya pelestarian dan regenerasi. Ia tidak ingin suatu saat dirinya menjadi salah satu seniman terakhir yang memperjuangkan keberadaan Rinding Malang.
Kekhawatiran itu bukan semata-mata mengenai keberlangsungan sebuah alat musik, melainkan juga tentang hilangnya pengetahuan, keterampilan, dan tradisi yang diwariskan antargenerasi.
Karena itu, ia berharap pemerintah daerah, pelaku seni, komunitas budaya, lembaga pendidikan, dan masyarakat dapat bersama-sama membuka ruang pembelajaran bagi generasi muda.
“Harapan saya, jangan sampai setelah saya tidak ada, perjuangan Rinding Malang ikut berhenti. Saya ingin ada generasi penerus yang mau belajar, memainkan, dan mengembangkan instrumen ini,” demikian pesan yang disampaikan Bejo Sandi dalam perbincangan tersebut.
Bejo Sandi menjelaskan bahwa Rinding Malang merupakan bagian dari tradisi instrumen yang dikenal dalam rumpun harpa mulut. Ia mengaitkan keberadaan instrumen tersebut dengan sejumlah sumber sastra dan sejarah lama, termasuk Ramayana, Subadra Wiwaha, dan Sumanasantaka.
Namun, hubungan historis tersebut memerlukan kajian dan rujukan ahli untuk memastikan keterkaitan langsung antara instrumen yang disebut dalam sumber-sumber tersebut dengan Rinding Malang yang dikenal saat ini.
Menurut penuturannya, upaya revitalisasi Rinding Malang telah dilakukan sejak 2018, Rinding Malang disebut tercatat dalam Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kota Malang dan menjadi bagian dari berbagai upaya pengenalan budaya.
Bejo Sandy juga menyampaikan sejumlah pengalaman dan capaian dalam perjalanan pelestarian tersebut, termasuk keterlibatan dalam kegiatan seni, festival, serta kompetisi yang berkaitan dengan kebudayaan.
Pada 2018, menurut keterangannya, Rinding Malang memperoleh persetujuan dalam proses pencatatan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) bidang seni pertunjukan. Ia juga menyebut keterlibatan instrumen tersebut dalam film pendek Nabastala Paling Mengerti bersama Kementerian Perhubungan RI.
Pada 2021, ia mengungkapkan pernah mengikuti International Mask Festival di Solo, meramaikan kegiatan Apresiasi Kreasi Indonesia di Surabaya, serta meraih peringkat kedua dalam lomba naskah budaya Kota Malang.
Selanjutnya, pada 2024, ia menyebut mendapat undangan sebagai narasumber dalam kegiatan YAR-TSRA yang dikaitkannya dengan UNESCO dan Tanoto Foundation. Pada 2025, ia juga menyampaikan bahwa dirinya masuk tiga besar kompetisi video pendek tingkat nasional yang diselenggarakan Prakarsa ID dan Universitas Udayana.
Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Bejo Sandy dalam mengenalkan Rinding Malang kepada masyarakat yang lebih luas.
Dalam kesempatan di stan Harpa Mulut Indonesia, Bejo Sandi tidak hanya menyampaikan kegelisahannya. Ia juga memperagakan cara memainkan instrumen tersebut dan menjelaskan teknik dasarnya kepada pengunjung.
Penjelasan itu menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat karakter bunyi dan cara memainkan instrumen yang selama ini belum banyak dikenal oleh khalayak luas.
Bejo Sandy kemudian tampil di panggung South Wave 2026. Penampilannya disaksikan sejumlah undangan, termasuk Sekretaris Daerah Kabupaten Malang dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang.
Melalui penampilan tersebut, ia berupaya menunjukkan bahwa instrumen tradisional dapat hadir dalam ruang kegiatan ekonomi kreatif dan pariwisata modern tanpa kehilangan identitas budayanya.
Kehadiran Rinding Malang di festival tersebut sekaligus membuka peluang untuk memperkenalkannya kepada pelaku seni, wisatawan, komunitas, dan generasi muda.
Bejo Sandy berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian Rinding Malang, terutama melalui program edukasi, pelatihan, lokakarya, pendokumentasian, dan pengenalan di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, pelestarian tidak cukup hanya dengan menyimpan catatan sejarah atau menampilkan instrumen dalam acara tertentu. Tradisi akan tetap hidup apabila ada orang yang mempelajari, memainkan, mengajarkan, dan mengembangkannya secara berkelanjutan.
Ia juga membuka kesempatan bagi komunitas, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat yang ingin mengadakan lokakarya, pelatihan, maupun diskusi mengenai Rinding Malang dan Harpa Mulut Indonesia.
Pihak yang berminat dapat menghubungi: GALEJO (Galeri Bejo)
Jalan Ranakah 12–14, Blok F Nomor 6–7, Tidar, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang,Kontak: 0858-9538-4363.
Bagi Bejo Sandy, masa depan Rinding Malang tidak seharusnya bergantung pada satu atau dua orang seniman. Warisan budaya akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan apabila pengetahuan dan keterampilannya diteruskan kepada generasi berikutnya.
Kegelisahannya menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan lebih dari sekadar apresiasi. Diperlukan kesempatan belajar, dukungan yang berkelanjutan, serta kemauan bersama agar Rinding Malang tetap dikenal dan dimainkan di masa mendatang.









