Lampung Tengah, (tabloidpilarpost.com) — Putusnya jembatan penghubung Kampung Tanjung Ratu Ilir, Kecamatan Way Pengubuan, dengan Kampung Purnama Tunggal, Lampung Tengah, berdampak serius terhadap aktivitas masyarakat.
Kapolres Lampung Tengah AKBP Charles Pandapotan Tampubolon, S.I.K., S.H., M.H., turun langsung mengecek kondisi jembatan tersebut pada Kamis (13/8/2026).
Kapolres didampingi Kasat Lantas AKP Glend Felix Siagian, S.Tr.K., S.I.K., M.Si., CPHR., CBA, Kasat Reskrim AKP Muhammad Prenanta Alghazali, S.T.K., serta Kapolsek Way Pengubuan Iptu Bayu Z. Ogara, S.Psi., M.M.
Pengecekan dilakukan untuk melihat langsung kondisi jembatan sekaligus memetakan dampak terputusnya akses yang selama ini menjadi jalur vital masyarakat di dua wilayah tersebut.
Jembatan tersebut memiliki panjang sekitar 65 meter dengan lebar 2,5 meter. Dibangun sejak 1973, jembatan selama puluhan tahun menjadi salah satu akses utama masyarakat.
Putusnya jembatan kini membuat mobilitas warga terganggu. Sedikitnya 190 pelajar tingkat SD, SMP hingga SMA terdampak karena akses menuju sekolah menjadi terhambat.
Tidak hanya pelajar, sekitar 1.000 pekerja yang selama ini menggunakan jalur tersebut untuk menuju sejumlah pabrik di kawasan Kampung Tanjung Ratu juga ikut terdampak.
Padahal, sebelum jembatan putus, jalur tersebut mampu memangkas waktu perjalanan masyarakat hingga sekitar 45 menit.
Kondisi tersebut menunjukkan betapa pentingnya jembatan bagi aktivitas harian warga, terutama bagi mereka yang menggantungkan mobilitas pada akses penghubung Tanjung Ratu Ilir–Purnama Tunggal.
Dampak putusnya jembatan juga merembet ke sektor pelayanan masyarakat.
Tiga sekolah dasar di Kampung Tanjung Ratu Ilir yang menerima manfaat dari SPPG Purnama Tunggal turut terdampak. Begitu pula akses masyarakat menuju Puskesmas Pembantu Tanjung Ratu Ilir.
Dengan demikian, persoalan jembatan tidak hanya menyangkut akses transportasi, tetapi juga berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan pelayanan kebutuhan masyarakat.
Kapolres Lampung Tengah AKBP Charles Pandapotan Tampubolon mengatakan, hasil pengecekan langsung di lapangan akan segera dilaporkan kepada Kapolda Lampung sebagai bahan informasi dan tindak lanjut.
“Kami sudah melihat langsung kondisi jembatan di lapangan. Jembatan ini merupakan akses penting bagi masyarakat, baik pelajar maupun pekerja. Dampaknya cukup besar karena menghubungkan dua wilayah dan memangkas waktu tempuh masyarakat,” ujar AKBP Charles.
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan perhatian dan koordinasi lintas instansi agar masyarakat segera mendapatkan solusi atas terputusnya akses.
Polres Lampung Tengah akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait, termasuk menyampaikan usulan pembangunan kembali jembatan agar mobilitas masyarakat dapat kembali normal.
“Kami akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait dan menyampaikan kondisi ini kepada pimpinan. Harapannya, ada langkah penanganan dan solusi terbaik sehingga aktivitas masyarakat, khususnya anak-anak sekolah dan para pekerja, dapat kembali berjalan dengan baik,” imbuhnya.
Kapolres menegaskan bahwa jajaran Polri akan terus memantau perkembangan kondisi di lokasi. Koordinasi juga dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan pengaturan lalu lintas maupun pengamanan di sekitar wilayah terdampak.
Menurutnya, aspek keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas sembari menunggu langkah penanganan dari pemerintah dan instansi terkait.
“Yang paling penting saat ini adalah keselamatan masyarakat. Kami akan terus memonitor kondisi di lapangan dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar penanganannya dapat segera dilakukan,” pungkasnya.
Putusnya jembatan yang telah menjadi akses masyarakat selama lebih dari lima dekade tersebut kini menjadi perhatian serius. Dengan ratusan pelajar dan sekitar seribu pekerja terdampak, percepatan penanganan diharapkan dapat segera dilakukan agar aktivitas warga di kedua wilayah tidak semakin terganggu.









