Tabloidpilarpost.com Lebak, Banten — Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini kembali menemukan denyutnya di tanah Banten. Jika dahulu Kartini menyuarakan gagasan dari Jepara melalui pemikiran yang melampaui zamannya, hari ini nilai-nilai itu hidup dalam tindakan nyata perempuan desa di Kampung Banjarsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak.
Sabtu (25/4/2026), Kartini Forwatu Banten menggelar kegiatan tandur atau menanam padi di area persawahan Cibuah. Mengusung tema “membumikan tandur di momentum Hari Kartini sebagai penguat kearifan lokal”, kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar peringatan—ia menjelma menjadi gerakan sosial yang menyentuh akar kehidupan masyarakat.
Dengan balutan kebaya, caping, dan semangat gotong royong, para perempuan turun langsung ke sawah yang berlumpur. Tangan-tangan mereka menanam padi, sementara nilai-nilai luhur tentang ketahanan pangan, kemandirian, dan kecintaan terhadap tradisi turut disemai.
Warisan pemikiran Kartini yang tertuang dalam Habis Gelap Terbitlah Terang seakan menemukan makna baru di sini—bahwa emansipasi bukan hanya tentang kesetaraan dalam wacana, tetapi juga keberanian mengambil peran dalam kehidupan nyata.
Achmad Khotib, Kaperwil Nasional Tabloid Pilar Post yang turut melakukan peliputan di lokasi, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan cerminan kuat dari semangat Kartini yang kontekstual dan membumi.
“Ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah gerakan nyata. Perempuan hadir langsung di sawah, menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus melestarikan budaya lokal,” ujarnya.
Di tengah aktivitas tersebut, suara perempuan desa menggema dengan ketulusan dan harapan.
Ibu Yanti, salah satu peserta, menyampaikan makna kegiatan ini dengan penuh haru.
“Kami ikut turun ke sawah bukan hanya untuk menanam padi, tapi juga menanam harapan. Di momen Hari Kartini ini, kami ingin menunjukkan bahwa perempuan desa juga punya peran besar—menjaga pangan, menjaga tradisi, dan masa depan anak-anak kami,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Ibu Leni, warga setempat yang turut ambil bagian, merasakan nuansa berbeda dalam kegiatan tersebut.
“Kami sudah terbiasa dengan sawah, tapi hari ini terasa lebih bermakna. Ada semangat Kartini di dalamnya. Menanam padi bukan hanya pekerjaan, tapi juga bentuk perjuangan kami sebagai perempuan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Kartini Forwatu Banten, Wiwin Winarti, menegaskan bahwa momentum Hari Kartini harus dimaknai sebagai panggilan untuk bergerak dan berkontribusi nyata bagi masyarakat.
“Kartini telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk berpikir maju dan mandiri. Tugas kita hari ini adalah melanjutkan semangat itu melalui aksi nyata. Kegiatan tandur ini menjadi simbol bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus merawat kearifan lokal,” ujarnya dengan penuh wibawa.
Ia juga menambahkan bahwa kebersamaan dalam kegiatan ini menjadi kekuatan sosial yang penting.
“Kami berharap gerakan ini terus tumbuh, menjadi ruang silaturahmi, dan menginspirasi perempuan untuk terus berdaya serta berkarya demi masa depan yang lebih baik,” tambahnya.
Kegiatan ini turut menghadirkan suasana kebersamaan lintas generasi. Anak-anak hingga orang tua hadir, menyatu dalam satu semangat: menjaga nilai-nilai lokal di tengah arus modernisasi.
Dari Jepara hingga Lebak, dari gagasan menjadi gerakan—perjalanan panjang perjuangan perempuan Indonesia terus berlanjut. Apa yang dilakukan para perempuan di Banjarsari menjadi pengingat bahwa akar budaya adalah fondasi yang tak boleh tercerabut.
Tabloid Pilar Post mencatat, di balik lumpur yang melekat di kaki para perempuan itu, tersimpan jejak sejarah yang hidup—tentang keberanian, keteguhan, dan harapan yang tak pernah padam.
Dari Lebak, perempuan menanam. Dari tanah, semangat Kartini terus tumbuh. Dari harapan, masa depan disemai.
( Achmad Khotib Kaperwil Banten )









