Lebak – (Tabloidpilarpost.com) – Ironis! Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Adjidarmo Lebak yang seharusnya menjadi benteng pelayanan kesehatan masyarakat, kini justru menjadi sorotan tajam publik. Sejumlah pasien terpaksa menunda operasi bedah umum lantaran obat anestesi (obat bius) kosong!
Kondisi ini menimbulkan keresahan mendalam di kalangan keluarga pasien, bahkan dianggap mencederai maklumat pelayanan publik yang dijunjung tinggi oleh rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Lebak tersebut.
Ketua Relawan Sabilulungan, Jaenal Abidin alias Habib, angkat suara keras menyoal kelangkaan obat bius tersebut. Ia menilai, apa yang terjadi di RSUD Adjidarmo merupakan bentuk kelalaian serius dalam manajemen pelayanan kesehatan.
“Saya ingin tahu, apa memang tidak ada anggaran untuk pengadaan obat anestesi? Kalau anggarannya ada, kenapa sampai stoknya kosong? Ini rumah sakit daerah, bukan klinik kecil! Masa pasien operasi harus tertunda hanya karena obat bius habis?” tegas Habib saat ditemui awak media di Gedung DPRD Lebak, Senin (28/10/2025).
Menurut Habib, pihak RSUD memberikan dua pilihan tak masuk akal kepada keluarga pasien — menunggu stok obat datang entah kapan, atau dirujuk ke rumah sakit lain.
“Pasien disuruh menunggu atau dirujuk. Tapi ini bukan perkara sabar atau tidak sabar, ini soal nyawa manusia!” ujarnya lantang.
Habib juga menyebut sudah menghubungi berbagai pihak terkait, termasuk Budi, Direktur RSUD Adjidarmo, dan Endang Komarudin, Plt Kepala Dinas Kesehatan Lebak, untuk memastikan masalah ini segera ditangani.
“Saya sudah konfirmasi ke Pak Endang. Katanya sudah diteruskan ke Dinkes. Tapi sampai sekarang belum ada solusi konkret. Masyarakat butuh tindakan nyata, bukan janji lewat telepon,” katanya geram.
Tak berhenti di situ, Habib mengaku juga telah mengirim pesan langsung kepada dr. Nanik guna memastikan stok obat bius, namun belum ada respons.
“Sudah saya WA, centang dua, tapi tidak dibalas. Ini bentuk ketidakpedulian terhadap tanggung jawab moral dan profesi,” sindirnya.
Sebagai Ketua Relawan Sabilulungan, Habib menegaskan langkahnya bukan untuk mencari sensasi, melainkan memastikan masyarakat Lebak mendapatkan haknya atas pelayanan medis yang layak dan manusiawi.
“Saya hanya ingin rakyat kecil di Lebak ini mendapatkan layanan kesehatan yang benar. Jangan sampai pelayanan publik hanya jadi slogan di spanduk, tapi kosong di lapangan,” tegasnya penuh kecewa.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak RSUD Adjidarmo belum memberikan keterangan resmi. Awak media mencoba konfirmasi langsung ke ruang Direktur, Kabag Humas, dan bidang penunjang medis — namun ketiganya tak tampak di tempat.
Publik kini menunggu langkah cepat dari Dinas Kesehatan Lebak. Sebab, bila rumah sakit rujukan utama daerah saja sudah mulai “mati rasa pelayanan,” bagaimana nasib masyarakat yang menggantungkan harapan hidup di sana?
![]()









