Lebak, (tabloidpilarpost.com) – Perjuangan warga penyintas bencana Lebakgedong terus bergema di pusat pemerintahan Kabupaten Lebak. Selama lima hari berturut-turut, koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam Gerakan Membangun Huntara Lebakgedong memilih menginap di depan Kantor Bupati Lebak.
Melalui aksi ini, warga mendesak pemerintah segera merealisasikan hunian layak bagi penyintas bencana. Hingga kini, mereka masih bertahan di hunian sementara (huntara), Minggu (18/1/2026).
Koalisi ini melibatkan LSM GMBI, Ormas Badak Banten, Forum Warga Bersatu Banten (Forwatu Banten), mahasiswa, penyanyi jalanan, serta warga Lebakgedong. Mereka menjalankan seluruh rangkaian aksi secara damai, terbuka, dan penuh pesan kemanusiaan.
Selain itu, massa aksi menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.
Aksi kemanusiaan ini dimulai sejak Kamis, 15 Januari 2026. Saat itu, Forwatu Banten membuka open donasi publik di depan Kantor Bupati Lebak. Mereka memilih cara unik dan simbolik, yaitu menjual “Pasung Harapan Warga Huntara”.
Pasung tersebut bukan sekadar makanan tradisional. Sebaliknya, pasung menjadi simbol keterpasungan harapan warga Lebakgedong yang selama enam tahun hidup tanpa kepastian hunian tetap. Seluruh hasil penjualan pasung dialokasikan untuk kebutuhan warga huntara.
Presidium Forwatu Banten, Arwan, menegaskan bahwa aksi ini membawa pesan moral bagi pemerintah dan publik.
“Kami menjual pasung bukan untuk mencari untung. Pasung ini melambangkan harapan warga yang masih terpasung. Selama negara belum menghadirkan hunian layak, keterpasungan itu masih nyata,” tegas Arwan.
Selanjutnya, pada Sabtu, massa aksi menampilkan atraksi Debus yang dimainkan langsung oleh Ormas Badak Banten. Atraksi budaya khas Banten ini menggambarkan ketangguhan, keberanian, dan perlawanan rakyat kecil terhadap ketidakadilan sosial.
Melalui Debus, massa menyampaikan bahwa warga Lebakgedong tidak akan menyerah.
Pada Minggu, 18 Januari 2026, aksi berlanjut dengan Ngamen Bareng bersama para penyanyi jalanan. Kegiatan ini sekaligus memperpanjang open donasi bagi warga Huntara Lebakgedong.
Petikan gitar, lagu kritik sosial, dan syair perjuangan menggema di pelataran kantor pemerintahan. Melalui bahasa jalanan, massa aksi berusaha mengetuk nurani para pemegang kekuasaan.
Arwan menegaskan bahwa aksi menginap berhari-hari ini mencerminkan keputusasaan rakyat yang terlalu lama menunggu.
“Kami tidur di pelataran kekuasaan agar para pemimpin melihat langsung penderitaan warga. Enam tahun pascabencana, warga masih hidup di hunian darurat. Ini soal kemanusiaan,” ujarnya.
Tokoh Badak Banten, King Naga, menyampaikan kritik keras terhadap pemerintah daerah.
“Enam tahun bukan waktu singkat. Jika pemerintah serius, hunian tetap sudah berdiri. Ketika rakyat harus mengamen dan menjual pasung di depan kantor bupati, itu tanda kegagalan tanggung jawab,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa perlawanan moral akan terus berjalan hingga pemerintah bertindak nyata.
Dukungan moral juga datang dari masyarakat sekitar. Seorang warga yang melintas mengaku terenyuh melihat keteguhan massa aksi.
“Mereka sudah lima hari tidur di sini. Kalau pemerintah hadir, rakyat tidak perlu sampai mengamen dan menjual pasung,” ujarnya.
Hal senada disampaikan seorang pedagang di sekitar lokasi.
“Panas dan hujan mereka tetap bertahan. Ini bukan sandiwara. Masalahnya jelas serius,” katanya.
Koalisi rakyat menegaskan bahwa aksi menginap, atraksi debus, ngamen bareng, penjualan pasung, dan open donasi akan terus berlangsung. Mereka menunggu komitmen nyata dan langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Lebak.
“Selama warga masih hidup di hunian darurat, perjuangan ini belum selesai,” menjadi pesan penutup aksi kemanusiaan tersebut.
![]()









