Lebak, (Tabloidpilarpost.com) – Enam tahun setelah banjir bandang 2020, ratusan warga Lebakgedong, Kabupaten Lebak, masih tinggal di Hunian Sementara (Huntara). Hingga kini, Pemerintah Kabupaten Lebak dan Pemerintah Provinsi Banten belum membangun hunian tetap (Huntap). Akibatnya, warga terus hidup dalam ketidakpastian.
Sebagai langkah nyata, warga Lebakgedong yang tergabung dalam Gerakan Bersama Membangun Huntara (GERBANG HUNTARA) menggelar open donasi di depan Kantor Bupati Lebak, Minggu (18/01/2026).
Selanjutnya, mereka menggalang dana melalui ngamen bersama penyanyi jalanan, penjualan simbol pasung, serta atraksi Debus. Dengan cara ini, warga mengajak publik untuk ikut peduli terhadap nasib korban banjir bandang.
Selain warga terdampak, GERBANG HUNTARA menghimpun berbagai elemen masyarakat. Di antaranya Ormas Badak Banten, LSM GMBI, insan pers, Forum Warga Bersatu Banten (Forwatu), Badak Banten Perjuangan (BBP), mahasiswa, dan relawan kemanusiaan.
Oleh karena itu, aksi ini mencerminkan persatuan rakyat dalam memperjuangkan hak dasar warga korban bencana.
Dalam aksi tersebut, peserta menampilkan atraksi Debus sebagai simbol keteguhan dan keberanian. Pada saat yang sama, mereka menyampaikan pesan perlawanan moral terhadap lambannya pembangunan hunian tetap.
Bagi warga, Debus bukan hiburan. Sebaliknya, Debus menjadi bahasa perjuangan rakyat kecil yang terus hidup tanpa kepastian.
Sementara itu, Ketua OKK DPP Ormas Badak Banten, Ki Bangkol, secara tegas mengkritik kebijakan anggaran Pemerintah Kabupaten Lebak. Khususnya, ia menyoroti rehabilitasi Alun-alun Rangkasbitung senilai Rp4,9 miliar.
“Pemerintah menghabiskan Rp4,9 miliar untuk alun-alun. Namun, warga Lebakgedong sudah enam tahun tinggal di Huntara tanpa kepastian. Karena itu, ini soal kemanusiaan dan keadilan anggaran,” tegas Ki Bangkol.
Lebih lanjut, Ki Bangkol menegaskan bahwa rakyat tidak akan terus diam. Menurutnya, pemerintah harus segera bertindak.
“Jika pemerintah menggunakan anggaran itu untuk membangun hunian tetap dan memperbaiki jalan rusak, maka dampaknya jelas terasa. Dengan demikian, rakyat bisa hidup lebih layak,” ujarnya.
Akhirnya, ia memastikan warga akan terus bersuara selama Huntara masih berdiri.
Sejak sore hari, penyanyi jalanan mengiringi aksi dengan lagu kritik sosial. Sementara itu, Forwatu Banten menjual simbol pasung sebagai gambaran bahwa warga masih terikat janji pembangunan.
Selanjutnya, warga menyalurkan seluruh hasil donasi untuk memenuhi kebutuhan dasar warga Huntara Lebakgedong.
Di sisi lain, aksi ini menarik perhatian masyarakat sekitar. Beberapa saat kemudian, sejumlah warga berhenti, menyaksikan atraksi Debus, lalu menyumbangkan rezekinya.
“Saya baru tahu mereka sudah enam tahun tinggal di Huntara. Karena itu, saya berharap pemerintah segera bertindak,” ujar seorang warga.
Pada akhirnya, GERBANG HUNTARA menegaskan bahwa open donasi ini bukan sekadar kegiatan sosial. Sebaliknya, mereka menyampaikan peringatan moral kepada Pemerintah Kabupaten Lebak agar segera menetapkan skala prioritas pembangunan yang adil dan berpihak pada rakyat kecil.
Hingga berita ini diturunkan, aksi solidaritas masih berlangsung. Dengan demikian, enam tahun hidup di Huntara menjadi potret krisis kemanusiaan yang tidak boleh lagi diabaikan.
![]()









