Banten — Tabloid pilar Post Ketika kalender bergerak menuju tanggal 10 Desember 2025, ada denyut harapan yang terasa semakin kuat di lingkungan Sekretariat Forwatu Banten. Di balik kesibukan persiapan, di antara langkah panitia yang mondar-mandir memastikan semua detail tertata rapi, tersimpan satu tujuan besar yang membuat seluruh energi seolah berhimpun pada satu titik: menghadirkan hari yang penuh keberkahan bagi anak-anak yatim-piatu dan kaum dhuafa.
Besok, Rabu pagi, bukan sekadar pelaksanaan kegiatan rutin atau seremoni tahunan. Besok adalah panggung di mana kehangatan hati diuji, kepekaan sosial dipraktikkan, dan kebermaknaan Milad ke-3 Forwatu Banten menemukan alas spiritualnya. Sebuah perayaan yang tak dibangun dari kemegahan panggung atau gemerlap sorot lampu—melainkan dari ketulusan yang diam-diam tumbuh dalam setiap langkah persiapan panitia.
Sejak beberapa hari terakhir, Sekretariat Forwatu Banten terlihat tak pernah benar-benar sepi. Saling sapa, saling bantu, saling menguatkan—rasa kebersamaan itu mengalir begitu saja, seakan seluruh pengurus memahami bahwa acara ini bukan hanya agenda organisasi, tetapi juga amanah moral yang wajib dijalankan dengan hati-hati dan penuh cinta. Anak-anak yang akan datang besok bukan sekadar undangan; mereka adalah tamu kehormatan, jiwa-jiwa kecil yang membawa doa paling murni dan harapan paling tulus.
Di bawah langit pagi yang diperkirakan cerah, kegiatan akan dimulai pukul 09.00 WIB dengan tawasul bersama dipimpin oleh Ustad Khusaeri. Suasana khidmat ini akan menjadi pintu masuk menuju rangkaian acara, memohon agar setiap langkah yang ditempuh menjadi keberkahan bagi semua. Atas nama syukur, atas nama pengabdian, dan atas nama rasa terima kasih atas perjalanan tiga tahun Forwatu Banten yang tak pernah lepas dari dinamika dan tantangan.
Tak berhenti di situ. Dari pembukaan oleh MC, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, laporan panitia, hingga sambutan-sambutan tokoh masyarakat, semuanya telah disusun dengan alur yang tidak hanya tertib namun juga menyentuh. Setiap bagian acara seolah menjadi kepingan kisah yang mengingatkan bahwa organisasi ini lahir untuk menjadi pelita bagi publik, bukan sekadar nama yang tercatat dalam struktur formal.
Dan puncaknya—ketika Ustad Mukhlis menyampaikan tausyiah bertema “Bentuk Syukur Hari Jadi dengan Berbagi kepada Yatim-Piatu & Dhuafa.” Sebuah pesan sederhana namun kuat, yang mengingatkan bahwa usia organisasi tidak dinilai dari berapa banyak acara yang dibuat, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keberadaannya.
Besok, ruangan sederhana di Sekretariat Forwatu Banten akan berubah menjadi ruang penuh senyum dan berkah. Ketika santunan diberikan secara simbolis oleh unsur pimpinan, bukan hanya tangan yang bergerak, tetapi hati yang bekerja. Hati yang meyakini bahwa memberi bukan hanya bagian dari tradisi, melainkan cara terbaik merayakan kehidupan.
Dan setelah semuanya usai—doa, pembagian santunan, pertemuan hangat—para pengurus akan tetap berkumpul, melaksanakan shalat dan makan siang bersama. Karena di balik kerja keras dan kesibukan, ada kebersamaan yang selalu menjadi alasan organisasi ini tetap kokoh hingga masuk tahun ketiganya.
Besok, Forwatu Banten tak hanya merayakan ulang tahun. Besok, Forwatu Banten merayakan arti keberadaan.









