Malang, (tabloidpilarpost.com) – Keresahan petani tebu di wilayah Malang Selatan kembali mencuat. Di tengah persoalan harga tebu yang belum sesuai harapan serta ketersediaan pupuk yang masih menjadi keluhan, sejumlah lahan tebu milik warga kembali dilanda kebakaran.
Kali ini, kebakaran terjadi di lahan tebu milik Mulyono, warga Desa Rejosari, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (22/7/2026).
Kobaran api menghanguskan lahan tebu milik Mulyono seluas kurang lebih satu hektare. Api juga merembet ke lahan milik saudaranya sekitar setengah hektare dan lahan milik warga lainnya, Pardi, sekitar setengah hektare. Total lahan yang terdampak diperkirakan mencapai kurang lebih dua hektare.

Saat awak media tiba di lokasi, api telah berhasil dipadamkan. Proses pemadaman dilakukan berkat kesigapan warga bersama perangkat Kecamatan Bantur, Pemerintah Desa Rejosari, jajaran Polsek Bantur, serta dua unit mobil pemadam kebakaran dari Pemerintah Kabupaten Malang.
Trantib Kecamatan Bantur, Aries Hermawan, mengatakan kebakaran terjadi di lahan tebu Dusun Krajan, RT 08/RW 02, Desa Rejosari.
“Kebakaran lahan tebu milik Pak Mulyono terjadi di Dusun Krajan. Informasi awal, api berasal dari arah pemakaman umum kemudian merembet ke area lahan tebu. Warga bersama perangkat desa dan kecamatan berupaya melakukan pemadaman agar api tidak menjalar ke permukiman,” ujar Aries.
Menurutnya, pihak kepolisian juga melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran.
Mulyono, pemilik lahan tebu yang terdampak, mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab kebakaran tersebut.
Ia menyebut api mulai diketahui sekitar pukul 12.30 WIB.
“Lahan saya kurang lebih satu hektare terbakar. Lahan milik saudara saya sekitar setengah hektare dan punya Pak Pardi juga sekitar setengah hektare. Total kurang lebih dua hektare,” ungkap Mulyono.
Ia mengatakan api pertama kali terlihat dari arah pojok selatan lahan.
“Saya tidak tahu apakah api itu sengaja dibakar orang atau karena kebakaran. Yang jelas, dari arah pojok selatan api sudah terlihat membara,” katanya.
Warga dan para pekerja penebang tebu kemudian berupaya mengendalikan api agar tidak semakin meluas ke arah permukiman.
“Kami meminta warga dan teman-teman penebang untuk membantu mengamankan api. Kami berusaha agar api tidak menyebar ke permukiman. Karena banyak semak dan alang-alang kering, api cepat membesar,” jelasnya.
Warga kemudian menghubungi pihak kepolisian dan BPBD Kabupaten Malang hingga akhirnya dua unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi.
Mulyono mengaku menerima musibah tersebut dengan lapang dada, meski kebakaran itu menyebabkan kerugian bagi petani.
Aditya, petugas dari PG Krebet Baru, mengatakan pihaknya mengetahui adanya kebakaran setelah menerima informasi mengenai lahan tebu milik kelompok tani yang terbakar.
“Kami mendapat informasi dari kelompok, kemudian langsung melakukan pengecekan ke lokasi. Harapannya, apabila terjadi kebakaran lahan tebu, dalam waktu 24 jam penanganannya bisa segera dilakukan agar tidak meluas,” ujarnya.
Di tengah kejadian tersebut, muncul keluhan dari masyarakat mengenai respons armada pemadam kebakaran yang dinilai belum cukup cepat.
Sejumlah warga mengaku mobil pemadam dari Pemerintah Kabupaten Malang tiba ketika api sebagian besar telah berhasil dikendalikan oleh warga.
Kondisi tersebut memunculkan harapan agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap sistem respons kebakaran, khususnya di wilayah Malang Selatan yang memiliki banyak lahan pertanian dan perkebunan.
Masyarakat berharap penanganan kebakaran dapat dilakukan lebih cepat sehingga potensi kerugian yang lebih besar dapat dicegah.
Kebakaran lahan tebu di Rejosari kembali menjadi pengingat bahwa sistem deteksi dini, kesiapsiagaan masyarakat, serta kecepatan respons petugas pemadam menjadi faktor penting dalam mencegah api meluas dan mengancam lahan pertanian maupun permukiman warga.
![]()









