Malang, (tabloidpilarpost.com) – Ritual suci Jalanidhipuja yang digelar umat Hindu di Pantai Balekambang, Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Sabtu (14/03/2026), berlangsung khidmat dan meriah. Upacara yang mengusung tema “Satu Bumi Satu Keluarga” ini mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang, Firmando H. Matondang.
Menurut Firmando, upacara Jalanidhipuja tidak hanya memiliki nilai religius bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas budaya daerah sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Malang.
“Kegiatan Upacara Jalanidhipuja merupakan kegiatan keagamaan, tetapi juga bagian dari penguatan kebudayaan yang ada di Kabupaten Malang. Kami berterima kasih kepada umat Hindu yang terus melestarikan budaya yang sekaligus menjadi daya tarik pariwisata daerah,” ujarnya usai kegiatan.
Ia juga menegaskan bahwa ke depan pemerintah daerah akan berupaya menata kegiatan tersebut agar semakin menarik bagi wisatawan tanpa mengurangi kekhidmatan ritual keagamaan.
“Ke depan akan kita tata lebih baik tanpa mengurangi kekhusyukan kegiatan keagamaan. Agenda tahun depan juga akan diinformasikan lebih luas agar wisatawan dapat menikmati lebih banyak kesenian yang ditampilkan,” tambahnya.
Sementara itu, Camat Bantur, Bayu Jatmiko, menyampaikan bahwa kegiatan Jalanidhipuja setiap tahun menunjukkan perkembangan yang positif dan semakin meriah.
“Kegiatan ini dari tahun ke tahun semakin meriah. Kami juga berkomunikasi dengan Kepala Dinas agar ke depan bisa lebih dikembangkan, sehingga selain menjadi ritual spiritual juga dapat menjadi agenda kunjungan wisata yang menarik,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri anggota DPR RI Andres Eddy Susetyo, perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Malang, unsur Muspika Bantur, serta pengelola wisata Pantai Balekambang.
Suasana sakral terasa saat deburan ombak Pantai Balekambang berpadu dengan alunan gamelan yang menandai dimulainya upacara. Di sekitar Pura Amerta Jati yang berdiri kokoh di atas pulau karang, ribuan umat Hindu dari Malang Raya, suku Tengger hingga Bali berkumpul mengenakan pakaian adat putih bersih.
Rangkaian ritual diawali dengan prosesi Mendak Toya Anyar, yaitu pengambilan air suci dari samudra yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi Ngiring Ida Batara sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.
Keindahan upacara mencapai puncaknya saat penampilan Tari Nata Mudra Karana, tarian sakral yang dibawakan oleh para gadis muda sebagai simbol perwujudan dewa penjaga arah mata angin.
Daya tarik utama yang menjadi perhatian wisatawan adalah prosesi Larung Jolen, yakni melarung tandu berisi hasil bumi ke tengah laut sebagai simbol persembahan dan rasa syukur kepada Sang Hyang Widi Wasa, yang dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal sebagai sedekah bumi.
Perpaduan tradisi Hindu yang kental dengan latar panorama alam tropis Pantai Balekambang menciptakan pemandangan yang memukau. Setiap tahunnya, upacara Jalanidhipuja berhasil menarik ribuan wisatawan dan fotografer, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
Dengan kekuatan nilai spiritual, budaya, dan keindahan alam yang berpadu harmonis, Pantai Balekambang semakin menegaskan posisinya sebagai destinasi wisata budaya (culture tourism) unggulan di Jawa Timur.
Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh semarak hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai.









