Malang, (tabloidpilarpost.com) – Warga Kabupaten Malang kembali menelan kekecewaan. Jalan penghubung Desa Wonokerto, Pringgodani, Karangsari, hingga Rejoyoso tepatnya di wilayah Gampingan RT 39 yang menjadi akses utama aktivitas ekonomi dan mobilitas warga dilaporkan rusak parah dan berlubang.
Hingga Selasa (03/03/2026), kondisi jalan tersebut disebut belum tersentuh perbaikan oleh Dinas Bina Marga Kabupaten Malang. Kerusakan di sejumlah titik ini semakin menjadi sorotan masyarakat, khususnya di wilayah Malang Selatan yang memiliki topografi berbukit.
Kepala Desa Wonokerto, Termidi Kuswanto, mengungkapkan bahwa lubang jalan memiliki kedalaman bervariasi dan kerap membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara roda dua.
“Kalau hujan jadi kubangan air dan lumpur, kalau kemarau jadi debu yang menyesakkan. Banyak warga yang terpleset dan jatuh,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi jalan pada malam hari semakin mengkhawatirkan dan menjadi “ranah” menakutkan bagi pengguna jalan.
Salah satu warga mengaku sudah berulang kali melaporkan kerusakan tersebut, namun respons yang diterima dinilai lambat.
“Kami sudah melapor ke desa sampai tingkat atas, tapi responsnya lambat. Perbaikan hanya tambal sulam, baru dua minggu kena hujan sudah rusak lagi,” keluhnya.
Termidi Kuswanto membenarkan bahwa pihak desa telah berkali-kali mengusulkan perbaikan karena status jalan merupakan kewenangan kabupaten.
“Memang benar warga sudah menyampaikan ke kami. Ini ranah jalan kabupaten, dan kami sudah berulang kali mengusulkan termasuk melalui Musrenbang Kecamatan Bantur. Kasihan warga kami yang melewati jalan itu sering jatuh,” tegasnya.
Di lapangan, sejumlah warga bahkan menyatakan siap menggelar aksi demo apabila tidak ada respons nyata dari pemerintah daerah.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Malang disebut masih menghadapi keterbatasan anggaran perbaikan infrastruktur, yang bahkan dilaporkan menurun pada tahun 2026. Data yang beredar menyebut sekitar 20 persen jalan di Kabupaten Malang masih dalam kondisi rusak.
Akibat lambatnya penanganan, warga terpaksa melakukan perbaikan swadaya dengan material seadanya seperti pasir, batu, dan semen untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Masyarakat berharap Pemkab Malang lebih responsif dan merata dalam melakukan perbaikan jalan, mengingat akses jalan merupakan urat nadi perekonomian sekaligus menyangkut keselamatan warga.
![]()









