Malang, (Tabloidpilarpost.com) – Keluhan warga di soal infrastruktur jalan kabupaten seakan menjadi nyanyian sumbang yang tak pernah usai. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat, kini berubah layaknya “kolam susu” saat hujan turun, dan menebar debu mencekik ketika musim kemarau tiba.
Pemandangan memprihatinkan ini terlihat di sejumlah titik. Lubang-lubang menganga yang cukup dalam, genangan air bercampur lumpur, hingga badan jalan yang hancur memaksa para pengendara ekstra waspada. Salah satu titik terparah berada di Jalan Raya Desa Tamanan, Kabupaten Bondowoso.

Saat awak media melintas pada Sabtu (28/02/2026) sekitar pukul 15.30 WIB, kondisi jalan tampak rusak berat. Permukaan aspal hancur, dipenuhi lubang menyerupai kubangan besar. Namun hingga kini, belum terlihat adanya perbaikan berarti. Kondisi tersebut memunculkan kesan bahwa Dinas Bina Marga Kabupaten Bondowoso terkesan cuek terhadap keluhan warga.
Salah satu warga yang melintas, Pak Mat, mengungkapkan kekecewaannya.
“Kami berharap jalan ini segera diperbaiki. Kerusakan di sini bukan baru satu atau dua tahun. Ada perbaikan di tempat lain, tapi di sini seperti tidak tersentuh. Bahkan saudara saya pernah jatuh dan baru sembuh. Ini sangat membahayakan pengendara,” ujarnya.
Data yang beredar menyebutkan, setidaknya sekitar 510 kilometer jalan di Bondowoso mengalami kerusakan dengan berbagai kategori. Angka tersebut menjadi gambaran betapa seriusnya persoalan infrastruktur yang dihadapi daerah ini.
Di tengah derita pengguna jalan, kinerja Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air, dan Bina Konstruksi (BSBK) Bondowoso menjadi sorotan. Meski keluhan kerap disampaikan warga melalui media sosial maupun kanal pengaduan, respons dan penanganan dinilai belum maksimal. Masyarakat menilai peninjauan tanpa tindak lanjut nyata hanya memperpanjang daftar kekecewaan.
Warga kini hanya bisa berharap pemerintah kabupaten segera turun tangan dengan langkah konkret, bukan sekadar wacana atau survei lapangan tanpa realisasi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, “kolam susu” di jalur-jalur Kabupaten Bondowoso bukan hanya berpotensi menimbulkan korban kecelakaan, tetapi juga dapat melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Sebelumnya, pihak BSBK berdalih bahwa keterbatasan APBD serta tingginya beban kendaraan bertonase berlebih menjadi salah satu penyebab lambatnya perbaikan. Namun pada awal 2026, laporan warga masih bermunculan, bahkan menyebutkan ada titik jalan rusak yang belum juga ditinjau meski sudah diajukan pengaduan.
Kini, publik menunggu: akankah darurat infrastruktur di Bondowoso segera ditangani, atau justru terus menjadi cerita lama yang berulang setiap musim?
(Surya )
![]()









