Bandung Barat, (Tabloidpilarpost.com) – Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bandung Barat (KBB) 2024, dinamika politik semakin memanas. Holid Nurjamil, seorang tokoh pemuda KBB, menyampaikan pandangannya terkait harapan dan keprihatinan yang dirasakan masyarakat.
“Kita sebagai warga Bandung Barat mengikuti dan memperhatikan isu-isu di media sosial, wacana di forum diskusi, maupun pemberitaan di media cetak dan elektronik terkait bakal calon kepala daerah yang akan direkomendasikan oleh partai politik,” ujar Holid Nurjamil dalam sebuah wawancara eksklusif. Jumat, (02/08/2024).
Menurut Holid, pada akhir bulan April dan Mei 2024, beberapa partai politik yang memiliki kursi di DPRD membuka penjaringan dan pendaftaran bakal calon kepala dan wakil kepala daerah.
“Hal ini memberikan angin segar kepada kita semua karena partai politik memberikan ruang kepada para tokoh di luar kader partai untuk ikut serta dalam pendaftaran,” lanjutnya.
Holid menjelaskan, masyarakat berharap tokoh-tokoh yang mendaftar melalui proses penjaringan ini akan mendapatkan rekomendasi dari partai politik untuk kemudian mendaftar ke KPU sebagai pasangan calon bupati dan wakil bupati.
“Harapan itu muncul karena banyak tokoh yang memiliki jiwa kepemimpinan, kapabilitas, integritas, serta rekam jejak yang baik ikut serta dalam pendaftaran di berbagai partai politik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Holid mengungkapkan bahwa sebagai warga KBB, dirinya kerap berdiskusi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk ketua RW, ketua RT, tokoh pemuda, tokoh agama, dan juga generasi Z.
“Dari obrolan dan diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat kita membutuhkan pemimpin yang merakyat, tegas, cerdas, dan religius. Pemimpin yang memahami permasalahan masyarakat seperti mahalnya kebutuhan pokok, fasilitas kesehatan yang tidak memadai, fasilitas pendidikan yang perlu perbaikan, infrastruktur yang kurang memadai, tingkat kemiskinan yang tinggi, pengangguran yang tinggi, pendapatan masyarakat yang rendah, kurangnya interkoneksi antar wilayah, dan ketimpangan antar wilayah yang cukup tinggi,” paparnya.
Namun, Holid menyatakan keprihatinannya ketika melihat perkembangan terbaru. Beberapa partai politik telah mengeluarkan rekomendasi, namun nama-nama yang muncul bukanlah mereka yang telah mendaftar sebelumnya.
“Ternyata yang muncul adalah nama-nama yang seolah-olah turun dari langit begitu saja dengan istilah penugasan,” keluh Holid.
Ia menambahkan bahwa banyak masyarakat mempertanyakan rekam jejak para calon tersebut. “Karena jika tidak bisa dibaca, ibarat kita membeli kucing dalam karung. Apalagi dengan kejadian tiga kali bupati dan Pj. Bupati bermasalah dengan hukum,” tambahnya.
Holid juga mengkritisi proses penilaian yang dilakukan oleh partai politik. “Proses pendaftaran calon kepala desa saja, yang lebih dari lima, ada penilaian dahulu oleh Timsel dengan bobot penilaian pendidikan, usia, pengalaman dalam bidang organisasi/lembaga. Apalagi ini untuk calon kepala daerah, harusnya bobot penilaian pun harus lebih tinggi oleh pimpinan partai politik,” tegasnya.
Mengakhiri pernyataannya, Holid menyampaikan rasa prihatinnya terhadap kondisi yang terjadi menjelang pendaftaran calon pada 27-29 Agustus mendatang. “Mau dibawa ke mana arah Kabupaten Bandung Barat ke depan? Pertanyaan ini kami tujukan kepada para pimpinan partai politik, Itu menunjukkan tidak linear nya antara kepentingan politik lokal di daerah, dengan ego politik pimpinan partai di nasional,” tutup Holid Nurjamil.
![]()









