Tabloidpilarpost.com LEBAK — Langkah awal Djuwita Dewi di bangku sekolah menengah pertama langsung diwarnai sebuah prestasi. Siswi kelas 1 SMP Negeri 3 Rangkasbitung itu berhasil meraih Juara II Lomba Kawih dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 Tingkat Subrayon 2.
Prestasi tersebut menjadi catatan tersendiri bagi Djuwita. Sebagai siswi yang baru memasuki jenjang SMP, capaian itu sekaligus menjadi pengalaman berharga untuk mengenal lingkungan baru, mengembangkan keberanian tampil, dan mengasah bakat yang dimilikinya.
Penghargaan tersebut secara resmi diterima Djuwita melalui piagam yang diberikan pada Kamis, 17 September 2026.
Bagi Djuwita, panggung FTBI bukan hanya menjadi tempat untuk berkompetisi. Lomba Kawih memberinya kesempatan untuk menunjukkan kemampuan sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan yang berkaitan dengan bahasa dan budaya daerah.
Kawih merupakan bagian dari seni suara Sunda yang memiliki keterkaitan erat dengan kekayaan bahasa dan budaya masyarakat. Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan semacam ini menjadi salah satu ruang untuk mengenal sekaligus menjaga keberlangsungan seni budaya daerah.
Di balik pencapaian Djuwita, ada dukungan keluarga yang turut menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Hendrik Gobreg, ayah Djuwita, mengaku bangga melihat putri bungsunya mampu meraih prestasi di awal perjalanan pendidikan tingkat SMP.
«“Saya sangat bangga atas prestasi yang diraih Djuwita. Sebagai anak bungsu, tentu capaian ini menjadi kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi kami sebagai orang tua,” ujar Hendrik Gobreg.»
Menurut Hendrik, prestasi tersebut diharapkan tidak membuat Djuwita cepat berpuas diri. Sebaliknya, capaian itu diharapkan menjadi dorongan untuk terus belajar, berlatih, dan mengembangkan kemampuan.
«“Semoga prestasi ini menjadi motivasi bagi Djuwita untuk terus belajar, terus berkarya, dan tidak cepat berpuas diri. Kami sebagai orang tua akan terus memberikan dukungan agar dia bisa mengembangkan bakat dan meraih cita-citanya,” tuturnya.»
Hendrik juga berharap pengalaman tersebut dapat membantu Djuwita membangun rasa percaya diri sekaligus belajar menghargai setiap proses yang dilaluinya.
Kebahagiaan yang sama dirasakan sang ibu. Bahkan, pencapaian tersebut menjadi momen yang cukup mengharukan karena Djuwita baru saja memasuki lingkungan SMP Negeri 3 Rangkasbitung dan saat ini masih duduk di kelas 1.
Bagi sang ibu, melihat anak bungsunya berani tampil dan mampu membawa pulang prestasi dari sebuah kompetisi menjadi kebahagiaan yang sulit diungkapkan hanya dengan kata-kata.
«“Saya merasa sangat terharu dan bangga melihat pencapaian Djuwita. Dia baru masuk SMP Negeri 3 Rangkasbitung dan sekarang masih kelas 1 SMP, tetapi sudah bisa mendapatkan prestasi seperti ini. Sebagai seorang ibu, tentu rasanya bahagia sekali melihat anak bungsu kami berani tampil dan mampu menunjukkan bakatnya,” ungkap sang ibu.»
Ia berharap pencapaian tersebut menjadi langkah awal bagi Djuwita untuk terus mengembangkan potensi, tanpa melupakan proses belajar sebagai bagian penting dari perjalanan pendidikan.
«“Saya berharap Djuwita tidak berhenti sampai di sini. Semoga prestasi ini menjadi penyemangat untuk terus belajar, berlatih, dan mengembangkan bakatnya. Yang paling penting, tetap rendah hati, jangan mudah puas, dan selalu semangat mengejar cita-cita,” tuturnya.»
Sang ibu juga menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah dan para guru yang telah memberikan kesempatan serta dukungan kepada Djuwita untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Menurutnya, dukungan dari sekolah menjadi bagian penting bagi seorang anak dalam menemukan dan mengembangkan bakat yang dimilikinya.
Bagi keluarga Djuwita, Juara II Lomba Kawih tentu menjadi sebuah kebanggaan. Namun, nilai penting dari pencapaian tersebut tidak hanya terletak pada peringkat yang diperoleh.
Ada keberanian untuk tampil, kemauan untuk belajar, proses latihan, serta kesempatan bagi seorang siswi yang baru memasuki jenjang SMP untuk menemukan ruang bagi bakatnya.
Di sisi lain, keterlibatan Djuwita dalam Lomba Kawih juga memperlihatkan bahwa seni dan budaya daerah masih memiliki ruang di kalangan generasi muda.
FTBI menjadi salah satu wadah bagi pelajar untuk mengenal, mengekspresikan, dan mengembangkan kemampuan yang berkaitan dengan bahasa serta budaya daerah.
Karena itu, prestasi Djuwita dapat dilihat sebagai bagian dari sebuah proses yang lebih panjang. Bukan hanya tentang mendapatkan piala, tetapi juga tentang bagaimana seorang anak memperoleh pengalaman, membangun kepercayaan diri, dan belajar menghargai budaya yang ada di sekitarnya.
Bagi Djuwita, perjalanan di SMP Negeri 3 Rangkasbitung baru saja dimulai. Prestasi Juara II FTBI 2026 menjadi salah satu catatan pertama dalam perjalanan tersebut.
Bagi kedua orang tuanya, capaian itu menjadi alasan untuk bersyukur sekaligus semakin memberikan dukungan kepada anak bungsunya agar terus bertumbuh dan mengembangkan potensi.
Satu panggung telah dilalui, satu prestasi telah ditorehkan. Perjalanan Djuwita masih panjang.
Selamat untuk Djuwita Dewi. Terus belajar, terus berkarya, tetap rendah hati, dan jadikan setiap pengalaman sebagai langkah untuk tumbuh dan mengukir prestasi berikutnya.








