Lebak, (tabloidpilarpost.com) — Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup berhenti pada imbauan dan slogan. Dibutuhkan tindakan nyata serta keterlibatan masyarakat agar kebersihan lingkungan menjadi kebiasaan bersama.
Pesan tersebut diwujudkan Forum Warga Bersatu (FORWATU) Banten melalui kegiatan Aksi Peduli Lingkungan (APEL) di Kampung Bahbul, Desa Cikulur, Kabupaten Lebak, Minggu (11/10/2026).
Mengusung gerakan GEMPARKANBANTEN (Gerakkan Membersihkan Parit dan Selokan), kegiatan ini mengajak masyarakat membersihkan saluran air sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan untuk mengurangi risiko banjir akibat drainase yang tersumbat sampah.
Aksi tersebut melibatkan warga, anak-anak, pelajar SMA Negeri 1 Cikulur, pengurus FORWATU Banten, unsur pemerintah, serta aparat keamanan. Mereka bergotong royong membersihkan sampah, daun, dan ranting yang menumpuk di saluran air.
Keterlibatan berbagai kelompok masyarakat itu menjadi gambaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi aktif seluruh warga.
Kepala BPBD Provinsi Banten, Drs. Lutfi Mujahidin, M.Si., hadir bersama jajaran FORWATU Banten, unsur Polsek Cikulur, aparatur kecamatan dan desa, para ketua RT se-Kampung Bahbul, serta siswa-siswi SMA Negeri 1 Cikulur.
Dalam sambutannya, Lutfi menegaskan bahwa GEMPARKANBANTEN harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar menjadi slogan kegiatan.
“GEMPARKANBANTEN sebenarnya adalah sebuah akronim yang memiliki makna mendalam, yaitu Gerakkan Membersihkan Parit dan Selokan. Ini bukan sekadar nama yang terdengar indah, tetapi sebuah seruan nyata untuk kita semua,” ungkap Lutfi.
Ia mengingatkan bahwa saluran air yang tersumbat sampah dapat menghambat aliran air hujan dan meningkatkan risiko genangan maupun banjir.
Karena itu, menurutnya, masyarakat perlu membangun kebiasaan menjaga kebersihan saluran air di lingkungan masing-masing.
“Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi inisiatif FORWATU Banten yang telah menggerakkan masyarakat, warga, hingga pelajar untuk ikut serta. Menjaga kebersihan parit dan selokan bukan tugas pemerintah saja, melainkan tanggung jawab kita semua. Mulai dari rumah masing-masing, mulai dari lingkungan sekitar kita,” tegasnya.
Ia berharap gerakan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, sekaligus mendorong kolaborasi antara pemerintah dan warga dalam mengurangi risiko bencana.
Presidium FORWATU Banten menyampaikan bahwa kegiatan GEMPARKANBANTEN merupakan bagian dari semangat Aksi Peduli Lingkungan yang telah beberapa kali dilaksanakan organisasi tersebut.
Sebelumnya, kegiatan APEL juga digelar di wilayah Kadubumbang dengan melibatkan warga, BLUD Puskesmas Cimanuk, serta sejumlah dinas terkait.
“GEMPARKANBANTEN seirama dengan Giat Sosial APEL (Aksi Peduli Lingkungan) yang sudah berkali-kali dilaksanakan oleh FORWATU Banten. Sebelumnya, APEL juga kita lakukan di Kadubumbang yang melibatkan warga, BLUD Puskesmas Cimanuk, serta dinas-dinas terkait,” ujar Presidium FORWATU Banten.
Menurutnya, kepedulian lingkungan harus dijalankan secara konsisten agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Pembersihan saluran air perlu disertai kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pemeliharaan drainase secara berkala.
Dengan demikian, hasil kerja bakti tidak hanya menghadirkan lingkungan yang lebih bersih pada hari pelaksanaan, tetapi juga menjadi awal perubahan perilaku masyarakat.
Bagi Agus Sugianto Wibowo, Koordinator GEMPARKANBANTEN sekaligus Humas FORWATU Banten, kegiatan di Kampung Bahbul memiliki makna emosional tersendiri.
Kampung tersebut merupakan tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Karena itu, aksi kebersihan yang melibatkan warga dan generasi muda menjadi momen yang membangkitkan kebanggaan sekaligus harapan terhadap lingkungan tempat ia tumbuh.
“Saya pribadi merasa terharu. Kegiatan ini berlangsung tepat di tempat saya lahir dan dibesarkan. Melihat anak-anak kampung, warga yang tanpa komando ikut bergerak, serta para pelajar yang tergerak hadir, inilah makna sesungguhnya dari GEMPARKANBANTEN. Perubahan dimulai dari kesadaran hati setiap warga,” ujar Agus.
Ia berharap semangat gotong royong yang tumbuh di Kampung Bahbul dapat menginspirasi masyarakat di wilayah lain di Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten.
Menurutnya, perubahan tidak harus selalu dimulai dengan program besar. Kesadaran membuang sampah pada tempatnya, membersihkan selokan, dan menjaga lingkungan sekitar merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap keluarga.
Salah satu hal yang menonjol dalam kegiatan APEL kali ini adalah keterlibatan anak-anak dan siswa SMA Negeri 1 Cikulur.
Mereka ikut membantu membersihkan lingkungan dan mengangkut sampah serta material yang menumpuk di saluran air. Keterlibatan tersebut sekaligus menjadi sarana pembelajaran langsung mengenai pentingnya menjaga kebersihan.
Pendidikan lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui teori di ruang kelas. Keteladanan orang dewasa dan pengalaman terlibat dalam kegiatan sosial dapat membantu menumbuhkan kebiasaan positif sejak dini.
Namun, kegiatan pembersihan tetap perlu memperhatikan keselamatan peserta, terutama anak-anak, dari benda tajam, limbah berbahaya, maupun kondisi saluran yang berisiko.
Ke depan, keberlanjutan gerakan dapat diperkuat melalui jadwal kerja bakti rutin, pemilahan sampah rumah tangga, dan koordinasi dengan pemerintah setempat untuk memastikan saluran air tetap terawat.
Kegiatan APEL FORWATU Banten menunjukkan bahwa masyarakat dapat mengambil peran langsung dalam menjaga lingkungan. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam kebijakan, fasilitas, dan pemeliharaan infrastruktur, sementara organisasi masyarakat dapat menjadi penggerak partisipasi warga.
Kolaborasi tersebut penting karena persoalan sampah dan drainase tidak dapat diselesaikan hanya melalui kegiatan sesaat.
GEMPARKANBANTEN diharapkan menjadi gerakan yang berkelanjutan, sehingga kepedulian tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari.
Pesan yang dibawa dari Kampung Bahbul pun sederhana: jangan menunggu banjir datang untuk membersihkan selokan dan jangan menunggu orang lain bergerak untuk mulai peduli.









