Lebak, (tabloidpilarpost.com)- Perayaan HUT Provinsi Banten ke-26 tidak hanya dimaknai melalui seremoni. Forum Wartawan Bersatu (FORWATU) Banten memilih merayakannya dengan turun langsung melihat kondisi masyarakat melalui “Aksi Gerilya Kemiskinan Sekitar Kita”, Minggu (4/10/2026).
Kegiatan yang dipimpin Presidium FORWATU Banten Arwan, S.Pd., M.Si., tersebut menyasar warga di Kampung Pabuaran, RT 02/RW 01, Desa Warunggunung, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak.
Selain menyalurkan bantuan beras, FORWATU melakukan pendataan warga melalui aplikasi PERLINSOS dan memberikan edukasi mengenai pentingnya kepedulian sosial.
Pesan yang dibawa sederhana, tetapi tegas: kemiskinan tidak selalu berada jauh dari kita. Bisa jadi, ada di lingkungan tempat kita tinggal.
Kemiskinan selama ini kerap dibicarakan melalui angka, persentase dan laporan. Namun di tengah masyarakat, kemiskinan memiliki wajah dan cerita yang berbeda-beda.
Ada keluarga yang harus mengatur pengeluaran dengan sangat ketat. Ada warga yang memilih diam karena malu meminta bantuan. Ada pula masyarakat yang membutuhkan perhatian, tetapi kondisi mereka belum sepenuhnya terlihat dalam data.
Karena itu, pendataan langsung menjadi bagian penting dalam kegiatan FORWATU.
Melalui aplikasi PERLINSOS, kondisi masyarakat di lapangan diupayakan dapat dipetakan secara lebih nyata. Data yang akurat dinilai menjadi salah satu dasar penting agar bantuan dan perhatian sosial dapat diberikan secara lebih tepat.
Presidium FORWATU Banten, Arwan, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar pembagian beras.
“Kami ingin mengingatkan bahwa kemiskinan bukan hanya persoalan pemerintah. Ini persoalan kemanusiaan yang harus menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai ada tetangga yang sedang kesulitan, tetapi orang-orang di sekitarnya justru tidak tahu atau memilih tidak peduli,” tegas Arwan.
Menurutnya, budaya gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar perlu kembali diperkuat.
“Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu ada program pemerintah untuk peduli. Kalau kita melihat ada tetangga yang membutuhkan dan kita mampu membantu, maka bantulah sesuai kemampuan,” ujarnya.
Memasuki usia ke-26, Provinsi Banten telah mengalami berbagai perkembangan pembangunan. Namun, di tengah kemajuan tersebut, masih terdapat masyarakat yang membutuhkan perhatian.
Bagi FORWATU, kondisi tersebut menjadi alasan HUT Banten tidak cukup hanya dirayakan dengan seremoni.
Momentum tersebut juga perlu menjadi ruang refleksi: siapa yang sudah merasakan pembangunan dan siapa yang masih tertinggal?
Sebab, keberhasilan pembangunan tidak semata-mata diukur dari pembangunan infrastruktur, gedung, kawasan industri maupun pertumbuhan ekonomi.
Ukuran keberhasilan juga harus terlihat dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat paling bawah.
Arwan mengatakan masyarakat miskin tidak boleh hanya diposisikan sebagai objek pendataan maupun penerima bantuan.
“HUT Banten ke-26 harus menjadi momentum untuk melihat masyarakat dari dekat. Jangan sampai kita terlalu sibuk berbicara tentang kemajuan, sementara masih ada saudara kita yang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya saja harus berjuang keras,” katanya.
FORWATU Banten juga mendorong penguatan kepedulian melalui lingkungan terkecil.
RT dan RW dinilai memiliki posisi penting karena mengetahui kondisi warga secara langsung. Begitu pula tetangga dan tokoh masyarakat yang berada paling dekat dengan persoalan sosial sehari-hari.
Dengan kepedulian bersama, persoalan masyarakat diharapkan dapat diketahui lebih cepat sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
“Kami ingin gerakan ini menjadi gerakan kesadaran. Jangan sampai ketika ada warga yang sudah sangat terpuruk, baru semua orang mengetahui. Kepedulian harus dimulai sebelum masalah menjadi lebih besar,” kata Arwan.
Pembagian beras dalam kegiatan tersebut tidak diposisikan sebagai solusi tunggal terhadap persoalan kemiskinan.
Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus pesan moral agar masyarakat tidak menutup mata terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Satu bantuan mungkin tidak menyelesaikan kemiskinan, tetapi satu kepedulian dapat memicu kepedulian lainnya.
Karena itu, FORWATU berharap gerakan tersebut dapat berkembang menjadi kepedulian bersama di berbagai wilayah Banten.
Sebagai organisasi yang beranggotakan wartawan, FORWATU Banten menilai fungsi pers tidak berhenti pada aktivitas mencari dan menyampaikan informasi.
Pers juga memiliki ruang untuk ikut mengangkat persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Kemiskinan, ketimpangan sosial, warga yang belum terdata serta masyarakat yang membutuhkan perhatian merupakan persoalan yang perlu terus disuarakan agar tidak luput dari perhatian publik.
Melalui Aksi Gerilya Kemiskinan Sekitar Kita, FORWATU mencoba menerjemahkan kepedulian tersebut melalui aksi langsung di lapangan.
Gerakan itu diharapkan tidak berhenti di Kampung Pabuaran, tetapi menjadi pemantik bagi masyarakat di wilayah lain untuk lebih peka terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya.
Pemerintah memiliki peran penting dalam menangani kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian.
Masyarakat juga tidak bisa hanya menunggu.
Kepedulian harus hadir sebelum persoalan menjadi viral dan sebelum warga berada dalam kondisi semakin sulit.
Jika kemiskinan ada di depan mata, maka kepedulian bisa dimulai dari lingkungan sendiri, dari tetangga terdekat dan dari kemampuan yang dimiliki.
Di momentum HUT Banten ke-26, FORWATU Banten menyampaikan pesan yang sederhana sekaligus tajam:
“BANTEN BOLEH TERUS MAJU, TAPI JANGAN SAMPAI ADA RAKYAT YANG DITINGGALKAN.”









