LEBAK, TABLOID PILAR POST – Di balik hiruk-pikuk ruang perawatan rumah sakit, terdapat kisah-kisah kemanusiaan yang jarang tersorot. Di sana hadir sosok-sosok yang bekerja dalam diam, tanpa mengharap pujian ataupun penghargaan. Mereka memilih mengabdikan waktu, tenaga, dan kepedulian demi memastikan setiap pasien tidak merasa sendiri saat menjalani perjuangan melawan penyakit.
Mereka adalah Relawan Komunitas Salam Setetes Darah (KSSD), sebuah komunitas sosial yang menjadikan nilai kemanusiaan sebagai landasan utama dalam setiap langkah pengabdian.
Bagi para relawan KSSD, menjadi relawan kesehatan bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan panggilan hati untuk terus hadir ketika orang lain membutuhkan uluran tangan. Di saat sebagian orang memilih menjauh dari kesulitan, mereka justru datang membawa harapan, memberikan semangat, serta menjadi penguat bagi pasien dan keluarga yang tengah menghadapi masa-masa penuh ujian.
Dengan berpegang teguh pada prinsip keikhlasan sebagai kekuatan, kepedulian sebagai langkah, dan kemanusiaan sebagai tujuan, para relawan terus membuktikan bahwa kepedulian adalah bahasa universal yang mampu menyentuh hati siapa pun.
Tidak hanya membantu kebutuhan pasien, para relawan juga hadir untuk mendengarkan keluh kesah, memberikan dukungan moral, membantu proses pendampingan pelayanan kesehatan, hingga memastikan setiap pasien tetap memiliki semangat untuk bangkit. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa kesembuhan tidak hanya membutuhkan pengobatan, tetapi juga perhatian, kasih sayang, dan rasa kemanusiaan.
Ketua Umum Komunitas Salam Setetes Darah (KSSD), ditya, menegaskan bahwa menjadi relawan merupakan sebuah pengabdian yang lahir dari ketulusan, bukan sekadar aktivitas sosial.
“Menjadi relawan bukan tentang seberapa besar yang kita miliki, tetapi tentang seberapa besar kepedulian yang mampu kita berikan kepada sesama. Di KSSD, kami percaya bahwa satu uluran tangan, satu tetes kepedulian, dan satu langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas dapat menghadirkan harapan besar bagi mereka yang sedang berjuang melawan sakit. Selama masyarakat masih membutuhkan kami, Insya Allah Relawan KSSD akan terus hadir, bergerak, dan mengabdi tanpa mengenal lelah. Karena bagi kami, kemanusiaan adalah panggilan hati, bukan sekadar slogan,” tegas ditya.
Menurut ditya, KSSD akan terus berkomitmen menjadi bagian dari gerakan sosial kemanusiaan yang hadir tanpa membedakan latar belakang, suku, agama, maupun kondisi ekonomi masyarakat. Semangat gotong royong dan kepedulian menjadi fondasi utama dalam setiap kegiatan yang dijalankan komunitas tersebut.
Di sisi lain, Maya Umaya, Ibunda Ketua Umum KSSD ditya, mengungkapkan bahwa semangat kemanusiaan yang terus hidup dalam keluarga besar KSSD merupakan warisan nilai kehidupan yang ditanamkan oleh almarhum suaminya, Ais Palet, yang semasa hidup dikenal sebagai sosok sederhana, penyayang, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat.
“Almarhum suami saya, Ais Palet, selalu berpesan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mampu memberikan manfaat bagi sesamanya. Pesan itulah yang kami pegang hingga hari ini. KSSD lahir dan tumbuh dengan semangat kepedulian, gotong royong, serta keikhlasan untuk membantu siapa pun tanpa memandang latar belakangnya. Saya berharap nilai-nilai yang diwariskan almarhum terus hidup dalam setiap langkah pengabdian para relawan KSSD,” ungkap Maya Umaya.
Maya mengatakan, melihat para relawan KSSD terus bergerak membantu masyarakat menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga. Baginya, semangat kepedulian bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan amanah yang harus terus dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Kami tidak mencari pujian ataupun penghargaan. Kebahagiaan terbesar kami adalah ketika melihat pasien kembali tersenyum, keluarga merasa lebih kuat, dan masyarakat merasakan bahwa mereka tidak sendiri menghadapi cobaan hidup. Selama Allah SWT masih memberikan kesehatan dan kesempatan kepada kami, Insya Allah kami akan terus mengabdi untuk kemanusiaan. Inilah warisan paling berharga yang ditinggalkan almarhum Ais Palet kepada keluarga kami,” tutur Maya Umaya dengan haru.
Pernyataan tersebut semakin mempertegas bahwa KSSD bukan sekadar komunitas sosial, melainkan sebuah keluarga besar yang menjadikan kepedulian sebagai budaya dan kemanusiaan sebagai jalan pengabdian. Semangat itu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan almarhum Ais Palet.
Siang maupun malam, tanpa mengenal lelah, para relawan menjalankan tugas kemanusiaan dengan penuh ketulusan. Mereka memahami bahwa bagi seseorang yang sedang terbaring sakit, senyuman, sapaan hangat, dan kehadiran seorang pendamping sering kali menjadi obat yang tidak kalah berharganya.
Di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistis, gerakan sosial yang dilakukan Komunitas Salam Setetes Darah menjadi oase yang menumbuhkan optimisme. KSSD membuktikan bahwa kepedulian masih hidup dan terus tumbuh di tengah masyarakat. Kebaikan tidak selalu diwujudkan melalui materi, tetapi juga melalui waktu, tenaga, perhatian, dan ketulusan untuk mendampingi sesama.
Semangat pengabdian para relawan menjadi bukti bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas usia, profesi, suku, maupun status sosial. Selama masih ada pasien yang membutuhkan pendampingan, selama masih ada keluarga yang membutuhkan penguatan, dan selama masih ada harapan yang harus diperjuangkan, para relawan KSSD akan terus melangkah dengan hati yang ikhlas.
“Hadir bukan karena diminta, tetapi karena peduli.” Kalimat sederhana tersebut bukan sekadar slogan, melainkan filosofi yang terus hidup dalam setiap langkah pengabdian para relawan KSSD kepada masyarakat.
Tabloid Pilar Post menilai, gerakan kemanusiaan yang dijalankan Komunitas Salam Setetes Darah merupakan teladan yang patut diapresiasi sekaligus menjadi inspirasi bagi masyarakat luas. Di tengah berbagai tantangan kehidupan, kepedulian, solidaritas, dan semangat gotong royong tetap menjadi fondasi penting dalam membangun bangsa yang lebih berempati, saling menguatkan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Semoga semakin banyak generasi muda dan masyarakat luas yang tergerak untuk ikut menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan. Sebab, satu langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan dapat menghadirkan harapan besar bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan kehidupan.
“Tidak semua pahlawan mengenakan
seragam. Sebagian memilih mengenakan rompi relawan, berjalan dalam sunyi, menghapus air mata, menguatkan harapan, dan menjadi cahaya bagi mereka yang hampir kehilangan semangat. Karena sejatinya, kemanusiaan adalah bahasa yang mampu menyatukan setiap hati.”
Achmad Khotib Kaperwil Banten








