Malang, (tabloidpilarpost.com) – Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital, masyarakat Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, membuktikan bahwa warisan budaya leluhur tetap hidup dan dijaga dengan penuh kebanggaan. Melalui kegiatan Selamatan Adat Larung Sesaji 1 Suro ke-120, Pemerintah Desa Srigonco bersama masyarakat kembali menggelar tradisi tahunan yang sarat nilai budaya, spiritualitas, dan kebersamaan di kawasan wisata Pantai Balekambang Regent.
Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari. Pada Rabu (17/06/2026) digelar pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Andi Bayu Sasongko, S.Sn, yang membawakan lakon penuh pesan moral. Acara juga dimeriahkan oleh penampilan seni Tari Ngremo yang dibawakan Erni dan Paisih.
Sementara pada Kamis (18/06/2026), puncak acara Larung Sesaji digelar dengan dihadiri unsur Forkopimcam Bantur, Perhutani, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan ribuan warga yang memadati kawasan Pantai Balekambang.
Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan dari Ketua Panitia sekaligus tokoh adat Desa Srigonco, Mbah Siyono Karyo Utomo, dilanjutkan sambutan Kepala Desa Srigonco Didit Puji Leksono, Kapolsek Bantur AKP Ahmad Taufik Syaifudin, S.H., M.H., serta perwakilan Perhutani dari Asper Sengguruh, Astiko.
Dalam sambutannya, Mbah Siyono Karyo Utomo menegaskan bahwa kegiatan Larung Sesaji bukan sekadar seremoni budaya, melainkan bentuk tanggung jawab generasi saat ini untuk menjaga identitas dan warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.
“Melalui acara ini, kita tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi merawatnya agar menjadi lentera bagi generasi penerus. Budaya adalah bahasa jiwa yang mengajarkan keselarasan hidup, rasa syukur, serta penghormatan terhadap alam semesta dan Sang Pencipta,” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian budaya bukan berarti kembali hidup di masa lalu, melainkan menjaga nilai-nilai luhur agar tetap relevan dan dicintai oleh generasi muda di era digital.
“Menjaga budaya bukan soal mundur ke belakang, tetapi bagaimana nilai-nilai adiluhung itu tetap hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan masyarakat masa kini,” tambahnya.
Kepala Desa Srigonco, Didit Puji Leksono, menegaskan komitmen pemerintah desa dalam menjaga dan mengembangkan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun selama lebih dari satu abad tersebut.
Menurutnya, Larung Sesaji menjadi simbol kuat kebersamaan masyarakat sekaligus sarana mempererat tali persaudaraan antarwarga.
“Acara ini menjadi bukti nyata komitmen masyarakat untuk merawat adat istiadat, menjaga persatuan, dan memperkuat kebersamaan. Mari bersama-sama menjadi penjaga warisan leluhur. Jangan sampai budaya kita hilang ditelan zaman,” tegas Didit.
Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bangga terhadap budaya daerah dan terus melestarikannya sebagai identitas bangsa.
“Lestarikan, banggakan, dan hidupkan selalu semangat nguri-nguri budaya di tengah perkembangan zaman,” katanya.
Kapolsek Bantur AKP Ahmad Taufik Syaifudin menyampaikan bahwa pihak Forkopimcam mendukung penuh kegiatan budaya yang menjadi bagian dari kekayaan tradisi masyarakat Bantur.
“Kami mendukung penuh kegiatan nguri-nguri budaya seperti Larung Sesaji ini. Namun kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan selama rangkaian kegiatan berlangsung,” ujarnya.
Senada dengan itu, Asper Sengguruh mewakili Perhutani, Astiko, mengingatkan pentingnya keselamatan selama pelaksanaan kegiatan.
“Budaya harus terus dilestarikan, tetapi keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Mari kita bersama-sama menjaga ketertiban dan keamanan selama acara berlangsung,” pesannya.
Puncak acara ditandai dengan prosesi ritual genduren, sungkeman, dan Larung Sesaji yang telah lama dinantikan masyarakat.
Berbagai sesaji yang telah dipersiapkan dibawa menuju bibir Pantai Balekambang untuk dilarung ke laut sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, keselamatan, dan keberkahan yang diberikan kepada masyarakat.
Prosesi sakral tersebut berlangsung khidmat dan disaksikan ribuan warga yang memadati kawasan pantai.
Setelah ritual selesai, acara dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian jaranan yang semakin menambah semarak suasana peringatan 1 Suro.
Larung Sesaji 1 Suro ke-120 menjadi bukti bahwa masyarakat Desa Srigonco masih memegang teguh nilai-nilai budaya dan kearifan lokal di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Tradisi yang telah berlangsung lebih dari satu abad ini bukan hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi simbol identitas, persatuan, dan rasa syukur masyarakat pesisir selatan Malang.
Dengan semangat kebersamaan dan dukungan seluruh elemen masyarakat, tradisi Larung Sesaji di Pantai Balekambang diharapkan terus lestari dan menjadi warisan budaya yang dapat dinikmati serta dibanggakan oleh generasi mendatang.









