Barito Kuala,(Tabloidpilarpost.com)— Focus Group Discussion (FGD) lanjutan mengenai aspirasi masyarakat di kawasan transmigrasi Cahaya Baru kembali digelar oleh Tim Ekspedisi Patriot IPB University – Tim B, bertempat di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Barito Kuala, pada Jumat, 10 Oktober 2025.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pihak, di antaranya Disnakertrans Provinsi Kalimantan Selatan, Disnakertrans Kabupaten Barito Kuala, serta sejumlah dinas teknis terkait seperti Dinas Pertanian, Bappelitbang, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM, serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. Turut hadir pula Camat Mandastana dan Belawang, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), serta seluruh kepala desa dari SKP C yang meliputi Desa Karang Bunga, Karang Indah, Karang Dukuh, Karang Buah, Samuda, Murung Keramat, Patih Selera, dan Rangga Surya.
FGD menghadirkan dua narasumber utama, yakni Kepala Bidang Ketransmigrasian Disnakertrans Provinsi Kalimantan Selatan, Ina Yuliani, S.Sos., M.Si., M.IP., serta Plt. Kepala Disnakertrans Kabupaten Barito Kuala, Arif Widodo, S.TP., M.S. Kegiatan ini dipandu oleh Intani Dewi, S.Pt., M.Sc., M.Si., selaku Ketua Tim Ekspedisi Patriot KT Cahaya Baru IPB University.
Dalam forum tersebut, para kepala desa menyampaikan berbagai aspirasi masyarakat transmigran, mulai dari perbaikan infrastruktur jalan, pemerataan bantuan antar desa, hingga percepatan pengurusan sertifikat tanah.
“Kami berharap bantuan maupun program pemerintah bisa dirasakan secara merata oleh seluruh desa, bukan hanya terpusat pada satu wilayah saja,” ungkap salah satu Kepala Desa di SKP C dalam sesi diskusi.
Menanggapi hal tersebut, Ina Yuliani menjelaskan bahwa Disnakertrans Provinsi Kalimantan Selatan terus berupaya menjalankan program-program pemberdayaan masyarakat transmigrasi, termasuk pembangunan fasilitas dasar dan bantuan produktif.
“Program seperti pembangunan toilet sekolah dan bantuan ternak sapi sudah mulai berjalan di beberapa wilayah. Kami ingin memastikan agar setiap kawasan mendapatkan manfaatnya secara adil dan berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, Arif Widodo menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat untuk mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada koordinasi lintas sektor agar setiap program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan,” ujarnya.
Diskusi juga menyoroti potensi besar kawasan transmigrasi Cahaya Baru, terutama di sektor pertanian dan pengolahan hasil. Produk unggulan jeruk siam dinilai memiliki peluang besar jika dikembangkan melalui pendekatan industri pengolahan. Beberapa inisiatif lokal pun mulai bermunculan, seperti “Kue Payukk” dengan produk pie jeruk dari Desa Karang Dukuh, serta es krim jeruk “Antani” dari Desa Karang Bunga. Inovasi tersebut tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk pertanian lokal, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat transmigrasi.
Selain itu, muncul pula gagasan pengembangan wisata berbasis pertanian, khususnya wisata kebun jeruk, yang dinilai mampu memperluas pasar produk lokal sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
FGD ini menghasilkan beberapa poin penting, antara lain perlunya pemerataan bantuan, penguatan asosiasi petani, serta pengembangan kelembagaan ekonomi lokal.
“Dengan adanya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan akademisi, kami yakin kawasan transmigrasi bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dan berkelanjutan,” tutup Intani Dewi, selaku moderator kegiatan.
Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat koordinasi antara pemerintah dan masyarakat transmigrasi untuk mewujudkan pembangunan kawasan yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.
![]()









