Malang(Tabloidpilarpost.com),Musim panen tebu tentunya merupakan suatu keberkahan bukan hanya bagi para petani tebu tetapi juga menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi para profesi sopir sebagai mata pencarian kehidupan bagi keluarga tetapi pernahkah tahu resiko resiko perjuangan seorang sopir .
Hal ini terungkap saat terjadi peristiwa sopir truk tebu menunggu antrian 3 sampai 4 hari di PG Krebet Bululawang muatannya tidak segera di terima belasan sopir truk tebu tutup akses jalan raya Bululawang Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang Selasa(22/07/2025) sehingga membuat macet jalan .
Menurut salah satu petani dan juga seorang sopir Nasir dari Pagak mengatakan ,” rekan rekan sopir truk tebu kadang kadang oleh nitizen di anggap menganggu lalu lintas jalan baik karena angkutan dianggap berlebih ataupun terjadi macet serta bila terjadi kecelakaan akan tetapi orang orang tidak tahu nasib para sopir tebu.

Saat angkutan melebihi kapasitas di anggap ngawur dan membahayakan bagi diri sendiri dan orang lain di anggap seenaknya sendiri sedangkan bila terjadi macet di anggap sebagai biang kemacetan karena beban berat dan truk besar yang memuat tebu di anggap menghambat perjalanan pengendara lain serta bila terjadi kecelakaan sebagai biang keladinya,” ungkap Nasir lirih
Seperti kemarin rekan rekan sopir sudah jenuh dan hampir putus asa menunggu lebih dari 3 sampai 4 hari angkutan tebu tidak segera di terima PG KREBET maka di pastikan kerugian yang di alami yaitu tidak dapat apa apa atau sebuah kerugian besar sopir di pastikan tidak ada koyo atau sisa untuk keluarga di rumah dan menjadi kelaparan atau tidak nutut sehingga dengan cara menutup akses jalan agar bisa mendapat perhatian dari pihak management PG Krebet,” jelasnya
Malam ini (22/07/2025) PG KREBET mengantisipasi antrian dan demo dari sopir truk mengedarkan edaran PG KREBET sementara tidak menerima tebu dari luar kota agar tidak terjadi kemacetan karena PG KREBET awalnya menerima tebu dari manapun berapa jumlahnya sedangkan PG Kebon Agung terbatas, dan berharap management serta pemerintah beri jalan keluar dan sekarang harga tebu turun lagi bang kisaran Rp 70.000 bila begitu petani merana apalagi dapat pupuk non subsidi ” ujar Nasir profesi sopir sekaligus petani tebu.
Hal ini tidak beda jauh dengan nasib sopir tebu lainnya pada hari Minggu ,20/07/202 saat awak media melewati jalan Wonogoro JLS Desa Tumpakrejo Kecamatan Gedangan ,Malang terjadi deretan panjang kurang lebih ada 30 truk tebu .

Ari warga Gedangan saat di lokasi bersama 2 orang temannya mengatakan menunggu SP keluar pagi ini biasanya keluar sore hari dan rencana tebu tebu ini akan di kirim ke brengkos bersamaan dan kalau muat 1 truk tebu rata rata bersih mendapat uang Rp 100 .000 itu bila 2 hari sudah bisa diterima dan terkirim ke PG dan kalau sama teman ya di bagi sedangkan bila lebih dari 3 hari tentunya dapat uang hanya untuk makan saja.
Tentunya dari yang di sampaikan oleh para sopir sangat miris dan tentunya harus ada jalan keluar terbaik agar kehidupan sopir layak inibyang harus jadi pemikiran pemerintah memberikan solusi terbaik dan terkait sopir tutup akses jalan di krebet saat berita di tulis menunggu konfirmasi dari pihak terkait atas kejadian tersebut.(Surya)
![]()









