Tabloidpilarpost.com LEBAK — Semangat Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tidak selalu harus dirayakan dengan kemeriahan. Dari Tanah Baduy, makna kemerdekaan justru hadir melalui kesederhanaan, kebersamaan, penghormatan terhadap adat, serta kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semangat tersebut terasa dalam kunjungan Forum Warga Bersatu (FORWATU) Banten ke Kampung Kaduketug III, wilayah adat Baduy, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan yang dikemas dalam suasana silaturahmi dan kekeluargaan tersebut diikuti sekitar 50 orang, terdiri dari pengurus dan anggota FORWATU Banten, jajaran Kartini FORWATU Banten, insan pers, serta warga setempat.
Turut hadir Wiwin, Ketua Kartini FORWATU Banten, bersama Siska, Sekretaris Kartini FORWATU Banten, jajaran anggota FORWATU Banten dan insan pers yang ikut menyaksikan rangkaian kegiatan.
Salah satu momentum utama dalam kunjungan tersebut adalah pemasangan Bendera Merah Putih dan Bendera FORWATU Banten di depan kediaman Runtah/Arman.
Bendera tersebut dipasang langsung oleh pengurus FORWATU Banten sebagai simbol kecintaan terhadap NKRI sekaligus penegasan bahwa semangat kebangsaan dapat berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap adat dan kearifan lokal masyarakat Baduy.
Suasana penuh kehangatan terasa ketika Merah Putih dikibarkan di depan kediaman Runtah/Arman. Bendera FORWATU Banten turut dipasang berdampingan sebagai simbol kebersamaan, persaudaraan, dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bagi FORWATU Banten, pemasangan bendera bukan sekadar seremoni. Sang Saka menjadi simbol bahwa semangat kebangsaan dapat tumbuh dan berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap adat, budaya, serta kearifan lokal masyarakat Baduy.
Presidium FORWATU Banten, Arwan, S.Pd., M.Si., mengatakan bahwa kunjungan tersebut menjadi momentum untuk membangun silaturahmi sekaligus melihat secara langsung bagaimana semangat kebangsaan dapat hidup dalam kesederhanaan masyarakat adat.
“Kami datang bukan sekadar untuk memasang bendera atau melakukan kegiatan organisasi. Kami ingin bersilaturahmi, membangun persaudaraan, sekaligus menunjukkan bahwa semangat nasionalisme dapat tumbuh kuat berdampingan dengan adat dan kearifan lokal. Masyarakat Baduy memiliki nilai-nilai kehidupan yang patut kita hormati dan kita jaga bersama,” ujar Arwan.
Menurut Arwan, Merah Putih tidak hanya menjadi simbol negara, tetapi juga menjadi pengikat seluruh elemen masyarakat dalam keberagaman.
“Bagi kami, Merah Putih adalah simbol persatuan. Di Tanah Baduy ini kita belajar bahwa menjaga adat bukan berarti jauh dari Indonesia. Justru dengan menjaga budaya dan lingkungan, kita ikut menjaga bagian penting dari jati diri bangsa,” tegasnya.
Arwan menambahkan, FORWATU Banten berharap silaturahmi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi awal dari hubungan yang lebih erat dengan masyarakat Baduy.
“Kami berharap kebersamaan ini terus terjaga. FORWATU Banten ingin hadir sebagai bagian dari masyarakat, mendengar, menghormati, dan bersama-sama menjaga persatuan. Dari Tanah Baduy, kita membawa pesan sederhana bahwa Indonesia kuat karena persaudaraan dan keberagamannya,” pungkas Arwan.
Setelah pemasangan bendera, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyematan Kartu Tanda Anggota (KTA) FORWATU Banten kepada Runtah/Arman, warga Kampung Kaduketug III yang bergabung dalam kepengurusan FORWATU Banten.
Penyematan KTA tersebut menjadi simbol kepercayaan sekaligus amanah untuk bersama-sama membangun komunikasi, memperkuat kepedulian sosial, dan menjaga semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
Runtah/Arman menyambut baik kunjungan dan kehadiran jajaran FORWATU Banten di kediamannya. Ia mengaku bersyukur dapat menerima kedatangan rombongan sekaligus menikmati kebersamaan dalam suasana sederhana di Tanah Baduy.
“Alhamdulillah, FORWATU Banten sudah bersilaturahmi ke kediaman saya. Saya sangat bersyukur dan senang bisa menerima kedatangan saudara-saudara dari FORWATU Banten. Kami juga bisa ngaliwet bersama di Baduy. Semoga silaturahmi dan kebersamaan ini terus terjaga,” ujar Runtah/Arman.
Menurutnya, perjumpaan tersebut bukan hanya menjadi momentum silaturahmi, tetapi juga mempererat rasa persaudaraan antara masyarakat Baduy dengan FORWATU Banten.
“Bagi saya, ini bukan hanya soal organisasi, tetapi tentang persaudaraan. Kami duduk bersama, makan bersama, berbincang bersama. Mudah-mudahan kebersamaan seperti ini membawa kebaikan untuk kita semua,” tambahnya.
Usai pemasangan bendera dan penyematan KTA, suasana semakin cair. Rombongan FORWATU Banten bersama warga melanjutkan kegiatan dengan Murak Kadu, yakni membuka dan menikmati buah durian hasil panen warga.
Kebersamaan kemudian dilanjutkan dengan Ngaliwet Bareng di kawasan Sosompang.
Sekitar 50 peserta yang hadir berbaur bersama warga dalam suasana sederhana dan penuh keakraban. Mereka duduk bersama, menikmati hidangan nasi liwet, berbincang, serta berbagi cerita.
Tidak ada sekat antara tamu dan tuan rumah. Kesederhanaan justru membuat suasana semakin hangat.
Di tengah kebersamaan itu, kemerdekaan terasa dalam bentuk yang paling sederhana: duduk bersama, berbagi makanan, saling menghormati, dan menjaga hubungan baik antarsesama.
Kehadiran jajaran Kartini FORWATU Banten bersama insan pers turut memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut.
Wiwin selaku Ketua Kartini FORWATU Banten bersama Siska selaku Sekretaris Kartini FORWATU Banten hadir bersama anggota lainnya. Kehadiran mereka menjadi bagian dari semangat kebersamaan dalam mempererat hubungan sosial sekaligus menjaga komunikasi dengan masyarakat.
Sementara kehadiran insan pers turut mengabadikan rangkaian kegiatan dan menyampaikan pesan positif dari perjumpaan tersebut kepada masyarakat luas.
Momentum tersebut memperlihatkan bahwa semangat kemerdekaan dapat dirawat melalui banyak cara: menjaga persaudaraan, menghormati adat, membangun komunikasi, serta menghadirkan kepedulian di tengah masyarakat.
Kunjungan FORWATU Banten ke Kampung Kaduketug III tidak hanya menjadi kegiatan organisasi. Lebih dari itu, perjumpaan tersebut menjadi ruang untuk membangun komunikasi dan saling menghormati dengan masyarakat Baduy yang memiliki tradisi serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Dari kesederhanaan Tanah Baduy, pesan kemerdekaan kembali menemukan maknanya.
Indonesia tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik dan kemajuan teknologi, tetapi juga melalui masyarakat yang menjaga adat, budaya, lingkungan, gotong royong, dan persaudaraan.
Momentum Kemerdekaan RI ke-81 di Kampung Kaduketug III akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia menjadi pengingat bahwa Merah Putih dapat berkibar bersama keberagaman, tradisi dapat tetap terjaga, dan persaudaraan dapat terus tumbuh di tengah perbedaan.
Dari Tanah Baduy untuk Indonesia.
Merawat tradisi. Menjaga persatuan. Menguatkan Indonesia.
Achmad Khotib Kaperwil Banten
![]()









