Lebak, (tabloidpilarpost.com) – Ada manusia yang dikenang karena jabatan, ada pula yang abadi karena pengabdiannya. Almarhum Ais Falet adalah salah satu di antaranya. Meski raganya telah berpulang, semangat kemanusiaan yang ia tanamkan terus hidup, tumbuh, dan mengalir melalui setiap aksi sosial yang dilakukan Yayasan Komunitas Setetes Darah (KSD) dan Komunitas Salam Setetes Darah (KSSD).
Semangat itulah yang terasa begitu kuat dalam peringatan Milad Ke-VI Yayasan Komunitas Setetes Darah yang digelar di Cafe Cikadu Lake ONA, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Sabtu (07/06/2026). Acara yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan tersebut menjadi momentum penting untuk mengenang perjalanan pengabdian, mempererat tali silaturahmi, serta memperkuat sinergi berbagai elemen masyarakat dalam gerakan sosial dan kemanusiaan.
Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh dan perwakilan organisasi, di antaranya Ketua Umum FORWATU, Ketua BADAK BANTEN Kabupaten Lebak, Ketua HMI Kabupaten Lebak, Ketua Relawan Sabilulungan, KSPN Lebak, Kartini FORWATU, insan pers, relawan kemanusiaan, serta berbagai elemen masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan panjang organisasi tersebut.
Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Yayasan Komunitas Setetes Darah, Maya Umaya, organisasi ini terus melanjutkan nilai-nilai kepedulian yang diwariskan almarhum Ais Falet. Enam tahun perjalanan yayasan menjadi bukti bahwa semangat berbagi dan gotong royong masih hidup dan terus tumbuh di tengah masyarakat.
Namun bagi banyak orang, sosok almarhum Ais Falet bukan hanya dikenang sebagai pendiri sebuah komunitas sosial. Di balik lahirnya Komunitas Salam Setetes Darah (KSSD), tersimpan kisah perjuangan yang lahir dari pengalaman hidup yang penuh makna.
Jauh sebelum mendirikan KSSD, Ais Falet dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial melalui komunitas motor yang diikutinya. Dari sanalah ia belajar tentang arti kepedulian, kebersamaan, dan pentingnya hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Setiap tahun, ia bersama rekan-rekannya terlibat dalam berbagai kegiatan bakti sosial, mulai dari santunan anak yatim, bantuan bagi kaum lanjut usia, dukungan terhadap pondok pesantren, bantuan sarana ibadah, hingga aksi kemanusiaan saat terjadi bencana alam.
“Waktu itu setiap tahun ada kegiatan bakti sosial. Dari kepedulian terhadap anak yatim, jompo, pondok pesantren, sarana ibadah sampai bantuan bencana. Di situlah saya belajar dan bergabung dengan para relawan yang ada di Banten,” kenang almarhum semasa hidupnya.
Pengalaman itu menjadi bekal berharga yang membentuk karakter sosialnya. Namun takdir kemudian mempertemukannya dengan sebuah peristiwa yang mengubah jalan hidupnya.
Kisah itu bermula ketika sang istri, Maya Umaya, melahirkan di tengah masa pandemi Covid-19. Saat itu keluarga mengalami kesulitan mendapatkan darah yang sangat dibutuhkan. Stok darah terbatas, sementara kondisi pandemi membuat pencarian pendonor menjadi semakin sulit.
Dalam situasi yang penuh kecemasan tersebut, Ais Falet merasakan secara langsung bagaimana berharganya setetes darah bagi seseorang yang sedang berjuang mempertahankan hidup.
Beruntung, setelah berbagai upaya dilakukan, darah yang dibutuhkan akhirnya berhasil diperoleh.
Peristiwa itulah yang kemudian menjadi titik lahirnya Komunitas Salam Setetes Darah.
“Alhamdulillah saat itu istri saya akhirnya mendapatkan darah yang dibutuhkan. Dari situlah muncul keinginan untuk mendirikan KSSD. Saya tidak ingin ada keluarga lain yang mengalami kesulitan seperti yang kami rasakan saat itu,” ungkap almarhum.
Dari pengalaman pribadi yang penuh kecemasan tersebut lahirlah sebuah gerakan kemanusiaan yang terus berkembang hingga kini. Berawal dari satu titik kepedulian, KSSD kemudian tumbuh menjadi jaringan relawan donor darah yang menjangkau berbagai wilayah di Provinsi Banten.
Kini, semangat yang dirintis almarhum telah berkembang menjadi gerakan kemanusiaan yang hadir di tujuh kabupaten dan kota di Banten, menjadi jembatan harapan bagi masyarakat yang membutuhkan donor darah, pendampingan pasien, serta bantuan kemanusiaan lainnya.
Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa sebuah kepedulian yang lahir dari pengalaman pribadi mampu menjelma menjadi gerakan sosial yang memberi manfaat bagi banyak orang. Dari satu panggilan darurat ke panggilan berikutnya, dari satu kantong darah ke kantong darah lainnya, KSSD terus bergerak menjadi rumah bagi mereka yang ingin berbagi kehidupan kepada sesama.
Namun perjuangan almarhum tidak berhenti sampai di sana. Ia juga dikenal sangat peduli terhadap anak-anak penderita talasemia, pasien cuci darah, dan masyarakat yang membutuhkan pendampingan kesehatan.
Ada satu kisah yang selalu membekas dalam ingatannya. Sebuah kisah yang menjadi alasan mengapa dirinya terus bergerak tanpa lelah membangun jaringan pendonor darah.
Saat itu, dua bayi kembar penderita talasemia bernama Dana dan Dani tidak sempat mendapatkan transfusi darah yang mereka butuhkan. Ketika informasi sampai kepadanya, keduanya telah lebih dahulu berpulang.
Peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam dalam hati almarhum.
Baginya, darah bukan sekadar kebutuhan medis. Darah adalah harapan. Darah adalah kesempatan hidup. Darah adalah penolong bagi mereka yang sedang berjuang di antara batas kehidupan dan kematian.
Sejak saat itu, tekadnya semakin kuat untuk memastikan semakin banyak masyarakat sadar akan pentingnya donor darah dan semakin banyak nyawa yang dapat diselamatkan melalui gerakan kemanusiaan yang dibangunnya.
Dalam sambutannya pada Milad Ke-VI, Ketua Umum Yayasan Komunitas Setetes Darah, Maya Umaya, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan organisasi yang kini memasuki usia keenam tahun.
Dengan penuh haru, ia mengenang perjuangan sang suami yang telah mendedikasikan hidupnya untuk membantu sesama.
“Hari ini bukan hanya tentang Milad Yayasan Komunitas Setetes Darah. Bagi saya pribadi, ini juga menjadi momen untuk mengenang perjuangan almarhum suami saya, Ais Falet, yang semasa hidupnya begitu mencintai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Saya percaya, selama semangat berbagi masih hidup di tengah masyarakat, maka cita-cita beliau akan terus hidup bersama kita,” ungkap Maya Umaya.
Suasana mendadak hening. Banyak tamu undangan yang larut dalam haru ketika mendengar pesan tersebut.
Maya juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan, organisasi, insan pers, dan masyarakat yang selama ini terus mendukung perjalanan yayasan.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh relawan, sahabat, organisasi, insan pers, dan masyarakat yang terus membersamai perjalanan yayasan ini. Enam tahun bukan perjalanan yang singkat. Namun berkat kebersamaan dan doa dari banyak pihak, kami mampu bertahan dan terus bergerak membantu sesama. Semoga Yayasan Komunitas Setetes Darah semakin bermanfaat dan semakin dicintai masyarakat,” tuturnya.
Tak hanya itu, Maya juga mengingat pesan yang selalu disampaikan almarhum semasa hidupnya.
“Almarhum selalu berpesan bahwa kebaikan tidak harus besar untuk menjadi berarti. Terkadang, setetes darah yang diberikan dengan tulus dapat menjadi alasan seseorang untuk tetap hidup. Pesan itulah yang akan terus kami jaga dan lanjutkan sebagai amanah yang tak ternilai harganya,” katanya.
Di tengah suasana yang penuh haru tersebut, Aditya, putra almarhum Ais Falet, turut menyampaikan pesan yang menyentuh hati para tamu undangan.
Menurutnya, sang ayah tidak pernah mengajarkan bagaimana menjadi orang besar, melainkan bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.
“Bagi kami sekeluarga, ayah tidak pernah mengajarkan tentang bagaimana menjadi orang besar. Ayah hanya mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Karena itu, kami berharap semangat yang beliau tinggalkan akan terus hidup melalui Yayasan Komunitas Setetes Darah dan seluruh relawan yang ada di dalamnya,” ujar Aditya.
Dengan suara yang sarat kebanggaan sekaligus kerinduan, Aditya mengaku bersyukur karena perjuangan yang pernah dirintis ayahnya tidak berhenti ketika beliau berpulang.
“Saya bersyukur karena apa yang diperjuangkan ayah tidak berhenti ketika beliau berpulang. Hari ini saya melihat begitu banyak orang yang tetap menjaga dan melanjutkan semangat kemanusiaan itu. Ini menjadi bukti bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya,” tuturnya.
Bagi Aditya, warisan terbesar yang ditinggalkan sang ayah bukanlah organisasi ataupun nama besar.
“Jika ayah meninggalkan warisan, maka warisan terbesar itu bukanlah sebuah nama atau organisasi. Warisan terbesar beliau adalah kepedulian. Dan selama kepedulian itu terus hidup di tengah masyarakat, saya yakin perjuangan ayah akan terus berjalan,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan para tamu undangan. Banyak yang menilai bahwa semangat pengabdian almarhum Ais Falet kini tidak hanya hidup dalam organisasi yang didirikannya, tetapi juga tumbuh dalam diri generasi penerus yang siap melanjutkan perjuangan kemanusiaan tersebut.
Selama enam tahun terakhir, Yayasan Komunitas Setetes Darah telah menjadi wadah sosial yang konsisten menjalankan berbagai program kemanusiaan, mulai dari donor darah, santunan anak yatim, bantuan sosial, pendampingan pasien, hingga berbagai aksi kemanusiaan lainnya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Milad Ke-VI ini menjadi bukti bahwa semangat yang pernah dinyalakan almarhum Ais Falet tidak pernah padam. Sebaliknya, semangat itu terus tumbuh melalui tangan-tangan para relawan, keluarga besar yayasan, serta seluruh elemen masyarakat yang percaya bahwa kebaikan sekecil apa pun dapat membawa perubahan besar.
Almarhum Ais Falet mungkin telah berpulang. Namun setiap kali seorang pasien mendapatkan darah yang dibutuhkan, setiap kali seorang relawan menjawab panggilan kemanusiaan, dan setiap kali harapan kembali hadir di tengah keluarga yang sedang berjuang, di sanalah nama Ais Falet kembali hidup.
Sebab warisan sejati tidak diukur dari apa yang ditinggalkan, melainkan dari berapa banyak kehidupan yang berhasil disentuh dan diselamatkan.
Di tengah dunia yang terus berubah, Yayasan Komunitas Setetes Darah dan KSSD hadir sebagai pengingat bahwa kepedulian masih memiliki tempat yang istimewa di hati masyarakat. Bahwa setetes darah yang diberikan dengan tulus mampu menjadi cahaya bagi mereka yang berada dalam kegelapan.
Dari setetes darah lahir sejuta harapan. Dari sebuah kepedulian lahir gerakan kemanusiaan. Dan dari perjuangan seorang Ais Falet, lahir warisan yang akan terus mengalir melampaui zaman, menghidupkan harapan, dan menginspirasi generasi demi generasi.









