Malang, (tabloidpilarpost.com) – Tradisi Petik Laut Sendangbiru ke-56 di Pantai Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, bukan hanya menjadi momentum pelestarian budaya masyarakat pesisir. Bagi politisi Partai Gerindra, Rahmat Kartala, S.Sos., kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk melihat secara langsung perjuangan dan ketangguhan para nelayan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Petik Laut Sendangbiru ke-56 tahun 2026 mengusung tema “Nelayan Merawat Tradisi Untuk Generasi”. Puncak kegiatan digelar pada Minggu (27/9/2026), dengan rangkaian doa, pemotongan tumpeng, arak-arakan hasil bumi dan hasil laut, hingga prosesi larung sesaji ke tengah laut.
Rahmat Kartala yang turut hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut mengaku mendapatkan kesan mendalam setelah menyaksikan langsung kehidupan masyarakat nelayan Sendangbiru.
Menurutnya, tradisi Petik Laut tidak hanya memperlihatkan kekayaan budaya masyarakat pesisir, tetapi juga menggambarkan kuatnya semangat gotong royong dan keberanian nelayan dalam menghadapi tantangan laut.
“Ikut serta dalam prosesi larung sesaji ini membuka mata saya lebih lebar tentang arti sebuah perjuangan. Nelayan Sendangbiru adalah simbol ketangguhan. Mereka menghadapi kondisi laut demi menghidupi keluarga dan memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Rahmat.
Rahmat menilai Petik Laut memiliki makna yang lebih luas. Selain menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan atas hasil laut, tradisi tersebut juga menjadi momentum untuk mengingatkan berbagai pihak mengenai kondisi dan kebutuhan masyarakat pesisir.
Ia menilai keberlangsungan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi perlu berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kesejahteraan nelayan.
“Ketangguhan mereka merawat tradisi secara turun-temurun ini harus kita imbangi dengan kebijakan yang berpihak kepada mereka,” katanya.
Rahmat menyebut sejumlah kebutuhan nelayan yang menurutnya perlu mendapat perhatian, antara lain akses terhadap BBM bersubsidi, sarana dan alat tangkap, serta aspek keselamatan nelayan ketika melaut.
“Kita tidak boleh membiarkan para nelayan berjuang sendirian di tengah laut. Keselamatan dan kesejahteraan mereka juga harus menjadi perhatian,” tegasnya.
Pelaksanaan Petik Laut ke-56 berlangsung meriah dan melibatkan masyarakat pesisir serta berbagai unsur pemerintahan dan stakeholder terkait.
Sejumlah pemberitaan menyebut kegiatan tersebut dihadiri unsur Forkopimda Kabupaten Malang, Muspika Sumbermanjing Wetan, tokoh masyarakat, jajaran keamanan, dinas terkait, serta masyarakat pesisir Sendangbiru.
Prosesi larung sesaji menjadi salah satu rangkaian utama. Hasil bumi dan hasil laut diarak sebelum dibawa menggunakan perahu menuju laut lepas.
Bagi masyarakat setempat, prosesi tersebut menjadi bagian dari ungkapan syukur sekaligus doa untuk keselamatan nelayan dan keberkahan hasil laut.
Rahmat menilai kebersamaan masyarakat dalam mempertahankan tradisi tersebut merupakan modal sosial yang penting bagi pembangunan kawasan pesisir Malang Selatan.
Ia berharap hubungan antara masyarakat, pemerintah daerah, dan wakil rakyat dapat semakin diperkuat sehingga aspirasi masyarakat nelayan dapat tersampaikan secara lebih baik.
Pesan mengenai perhatian terhadap masyarakat nelayan tersebut kembali ditegaskan Rahmat ketika bertemu kembali pada Jumat (2/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, perhatian terhadap kehidupan masyarakat pesisir dan keberlangsungan tradisi Sendangbiru kembali menjadi salah satu pembahasan.
Rahmat berharap momentum Petik Laut ke-56 tidak berhenti sebagai perayaan budaya tahunan, tetapi juga menjadi pengingat mengenai pentingnya memperkuat sinergi untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat pesisir.
“Semangat kebersamaan yang terlihat dalam Petik Laut harus terus dijaga. Masyarakat nelayan memiliki peran penting dalam kehidupan ekonomi dan sosial kawasan pesisir,” ujarnya.
Ia juga berharap kawasan pesisir Malang Selatan dapat berkembang tanpa kehilangan identitas budaya serta tetap memberikan ruang yang kuat bagi masyarakat nelayan sebagai bagian penting dari kehidupan pesisir.
Petik Laut Sendangbiru ke-56 akhirnya tidak hanya meninggalkan kemeriahan arak-arakan dan prosesi larung sesaji. Tradisi tersebut juga kembali memperlihatkan kuatnya hubungan masyarakat Sendangbiru dengan laut, budaya, dan kehidupan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.









