Malang, (tabloidpilarpost.com) — Malam beranjak larut, namun semangat di Pantai Balekambang justru semakin membara. Setelah seharian pengunjung dimanjakan dengan alunan musik akustik dan gelar seni budaya lokal, ribuan pasang mata tertuju pada cakrawala dalam puncak acara “Gelegar Seni Balekambang”, Sabtu (28/03/2026).
Pura Amarta Jati yang berdiri kokoh di atas karang tampak megah, diterangi tata cahaya lampu warna-warni yang memantul di permukaan laut. Suasana magis pun tercipta, menghadirkan pengalaman wisata malam yang tak terlupakan di pesisir selatan Kabupaten Malang.
Acara yang dikemas dalam tajuk “Gelegar Seni Balekambang” ini mencapai puncaknya pada prosesi pelepasan lampion. Kegiatan berlangsung sukses dan mendapat respons positif dari para wisatawan yang memadati kawasan pantai.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Firmando H. Matondang, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai acara ini mampu meningkatkan daya tarik wisata sekaligus berpotensi menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Gelar Seni Balekambang dengan puncak pelepasan lampion ini sangat luar biasa. Ini mampu menarik minat wisatawan datang ke Pantai Balekambang. Kami juga mengusulkan agar pengelola mendapatkan sertifikat penghargaan dari Bupati atas dedikasi dan kreativitasnya dalam mengembangkan sektor pariwisata dan budaya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (30/03/2026).
Ratusan lampion mulai dinyalakan secara serentak. Api kecil di dalamnya memanaskan udara hingga lampion-lampion tersebut mengembang, siap diterbangkan. Para wisatawan dan warga yang berkumpul di bibir pantai tampak antusias mengikuti arahan panitia.
Ketua Perumda Jasa Yasa Unit Balekambang, Pratama Wijang, memimpin hitungan pelepasan lampion dengan penuh semangat.
“10 persen, 20 persen, 50 persen, 80 persen, 90 persen… 100 persen, terbangkan!” serunya.
Seruan tersebut disambut pelepasan ratusan lampion ke langit malam. Suasana seketika hening, berganti decak kagum saat lampion-lampion itu perlahan naik, meninggalkan jejak cahaya jingga keemasan yang kontras dengan gelapnya Samudra Hindia.
Di udara, lampion tampak seperti gugusan bintang baru yang berpadu dengan langit malam, menciptakan panorama spektakuler. Lebih dari sekadar atraksi visual, pelepasan lampion ini menjadi simbol “make a wish”, tempat setiap pengunjung menitipkan doa dan harapan akan kebahagiaan, keberuntungan, dan kemakmuran.
Debur ombak yang berpadu dengan alunan musik instrumental lembut semakin menambah nuansa sakral dan romantis. Tak heran jika Pantai Balekambang kerap dijuluki sebagai “Tanah Lot”-nya Jawa Timur.
Salah satu wisatawan asal Surabaya, Rokhim, mengaku terkesan dengan pengalaman tersebut.
“Acara ini sangat menarik. Saya dan keluarga sampai tidak sabar ingin segera melepas lampion karena penasaran. Ini momen spesial pertama kami, dan kalau ada lagi pasti akan kembali ke sini,” ungkapnya.
Pratama Wijang menegaskan, kegiatan ini akan terus berlanjut karena terbukti mampu menarik minat wisatawan.
“Kegiatan berjalan sukses dan lancar. Ke depan pasti akan kami lanjutkan karena antusiasme pengunjung sangat tinggi. Kami juga mendapat kabar akan ada penghargaan dari Bupati,” katanya.
Saat lampion-lampion mulai menjauh dan menghilang di balik awan, suasana kebersamaan begitu terasa. Ratusan wisatawan yang berkemah di tepi pantai bersorak gembira, mengabadikan momen tersebut.
Malam itu, di bawah langit Balekambang, harapan diterbangkan dan kenangan indah terukir dalam gemerlap cahaya lampion.









