Malang, (Tabloidpilarpost.com)- Dai Kamtibmas Polres Malang, Abah Hasyim (juga dikenal sebagai KH. Hasyim), menjalin kedekatan dengan masyarakat Kabupaten Malang melalui pendekatan humanis, yaitu dengan tidak hanya menyampaikan pesan kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat), tetapi juga membangun kebersamaan, membimbing secara spiritual, menyentuh hati seperti saat pulang umroh di mana ia disambut hangat dan terus berinteraksi dengan warga juga saat pada hari Kamis (18/12/2025) di tempat wisata Sumberbuntung Desa Rejoyoso Kecamatan Bantur Kabupaten Malang.
Cara sederhana dan penuh makna saat melakukan pendekatan kepada warga masyarakat dan menunjukkan figur pemimpin agama yang merangkul dan menjadi sahabat masyarakat dalam menjaga keamanan dan keharmonisan wilayah yang ada di Kabupaten Malang.
Saat awak media berada di tempat wisata pemandian Sumberbuntung tampak Abah Hasyim (K.H Hasyim Asy’ari) bersih bersih sampah dengan pakaian seadanya seperti warga masyarakat desa pada umumnya.
Dengan gaya santai dan kocak beliau sampaikan saat di tanya bersih bersih di tempat wisata pemandian Sumberbuntung mengatakan
kebersihan itu adalah sebagian daripada iman,” ungkapnya dengan banyol tetapi mengandung makna
Beliau juga menyampaikan bekerja dengan di selingi bercanda dan senyum tidak terasa pekerjaan sudah beres tetapi kalau tegang pusing maka pekerjaan seakan akan tidak selesai selesai kok sangat lama ya makanya saat bekerja di lalui dengan slow slow saja dan santai ,’ terangnya dengan murah senyum.
Dan beliau juga bisa dengan gamblangnya menjelaskan ke depan wisata kolam renang Sumber buntung semakin bagus semoga juga diberi kelancaran .
Dan begitu pula saat beliau berada di tengah tengah masyarakat “Di sudut sudut desa Kabupaten Malang, sering kali terdengar suara teduh dan nasihat bijak dari sosok yang akrab disapa Abah Hasyim, Dai Kamtibmas Polres Malang. Beliau bukan sekadar penceramah, tapi juga sahabat sejati warga. Dengan senyum hangat dan sentuhan humanis, Abah Hasyim mendekati masyarakat, tidak hanya berbicara tentang bahaya narkoba atau kenakalan remaja,juga menanamkan nilai-nilai penuh kebersamaan dan toleransi.
Juga demikian ketika Sore di sebuah mushola kecil, Abah Hasyim tidak hanya menyampaikan tausiyah tentang arti pentingnya menjaga persatuan. Ia duduk lesehan, berbagi cerita, mendengarkan keluh kesah para ibu-ibu, dan menasihati anak-anak muda dengan bahasa yang mereka pahami. ‘Kamtibmas itu dimulai dari hati yang bersih dan tetangga yang rukun,’ ujarnya, sambil mengelus pundak seorang pemuda.
Momen-momen kecil ini justru bisa membangun kepercayaan, membuat warga merasa dihargai dan lebih terbuka.
Abah Hasyim menunjukkan bahwa Polri, melalui sosok dai seperti dirinya, hadir bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk merangkul. Ia mengubah paradigma, menjadikan polisi sebagai bagian dari solusi, bukan hanya penegak hukum.
Melalui pendekatan humanisnya, keamanan bukan lagi urusan polisi semata, tapi juga tanggung jawab bersama, dimulai dari harmoni di tingkat akar rumput.
![]()









