Tabloid Pilar Post – Jawa Tengah | 25 November 2025
Wacana penerapan sekolah enam hari bagi jenjang SMA/SMK di Jawa Tengah memicu polemik di kalangan masyarakat. Hal ini terlihat dari petisi penolakan yang beredar secara daring dan telah memperoleh lebih dari 25.000 tanda tangan, menandakan besarnya penolakan dari siswa, orang tua, hingga pemerhati pendidikan.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), menegaskan bahwa kebijakan tersebut belum diputuskan secara final. Menurutnya, pemerintah provinsi masih melakukan kajian mendalam serta proses sosialisasi sebelum menentukan langkah lanjutan.
“Ini belum final. Kami masih melakukan kajian dan mendengarkan masukan dari berbagai pihak,” ujarnya.
Gus Yasin menambahkan, dalam proses kajian ini pihaknya akan menggandeng pakar pendidikan, perguruan tinggi, hingga stakeholder terkait, sehingga keputusan yang diambil nantinya benar-benar mempertimbangkan aspek akademik, psikologis, sosial, dan kesiapan sekolah.
Adapun latar belakang munculnya wacana sekolah enam hari ini berangkat dari pertimbangan di beberapa daerah yang menilai bahwa sistem lima hari yang selama ini berjalan kurang sinkron dengan aktivitas sebagian orang tua yang bekerja enam hari dalam seminggu. Namun di sisi lain, banyak pihak khawatir kebijakan ini dapat menambah beban siswa serta mempersempit waktu istirahat dan kegiatan non-akademik.
Hingga kini, diskusi publik soal efektivitas dan dampak kebijakan ini masih berlangsung. Pemerintah provinsi menyatakan bahwa keputusan akhir akan diumumkan setelah seluruh proses kajian selesai.
Senoaji









