Lebak, (tabloidpilarpost.com) – Di tengah pesatnya perkembangan zaman, masih ada warga yang hidup dalam kondisi memprihatinkan. Seperti yang dialami Nuraeni Nung (48), warga Kampung Kiarapyaung, Desa Tambak, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak. Ia bersama dua anak yatimnya tinggal di sebuah gubuk kecil berukuran 5 x 3 meter dengan kondisi sangat tidak layak huni.
Rumah yang ditempati Nuraeni berdinding kayu dan bambu bekas yang ditambal menggunakan sarung lusuh, serta beralaskan bambu rapuh. Bagian dapur rumahnya hanya setinggi 135 sentimeter, sehingga hampir tak bisa berdiri tegak di dalamnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nuraeni bekerja serabutan.
“Kadang saya kerja ngerik, ngurut, motong bambu, kadang juga jadi kuli ngaduk kalau ada yang nyuruh,” ungkapnya saat ditemui, Rabu (5/11/2025).
Namun, karena faktor usia dan kondisi fisik yang mulai melemah, pekerjaan tersebut tidak selalu bisa ia dapatkan. Ia sering kali bergantung pada belas kasihan tetangga sekitar untuk sekadar makan.

Lebih miris lagi, Nuraeni mengaku tidak pernah menerima Bantuan Sosial (Bansos) dari pemerintah.
Untuk bertahan hidup, ia kerap mencari daun kelor, daun singkong, atau kangkung liar di sekitar rumahnya untuk dijadikan lauk sehari-hari.
“Sudah 17 tahun saya tinggal di gubuk ini, bikin sendiri pakai bahan seadanya. Kalau hujan bocor semua. Sedih, enggak punya apa-apa dan jarang ada yang mau mempekerjakan,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Nuraeni berharap ada perhatian dari pemerintah, masyarakat, maupun para dermawan agar dirinya dan dua anaknya bisa hidup lebih layak. (Dase)
![]()









